Sebagaimana diketahui oleh ummat Islam, berdasarkan dalil-dalil syari’at dari al-Qur’an dan as-Sunnah, bahwasanya setiap amal dan ucapan seseorang akan dipandang benar dan dapat diterima jika berdasar ‘aqidah yang benar. Apabila ‘aqidahnya tidak benar, maka setiap amalan ucapannnya akan menjadi batal atau tidak sah.
Risalah ini diterjemahkan dari kitab at-Tanbiihat al-Mukhtasharah Syarh al-Waajibaat al-Mutahattimat al-Ma’rifah ‘alaa Kulli Muslim wa Muslimah, yang ditulis secara sistematis dan disertai penjelasan yang luas oleh Ibrahim bin asy-Syaikh Shalih bin Ahmad al-Khuraisi.
Dalam risalah ini dijelaskan tiga landasan pokok yang wajib dipelajari setiap muslim dan muslimah, yaitu mengenal Allah ‘azza wa jalla, mengenal agama-Nya (Islam),dan mengenal Nabi-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi sallam. Ketiga hal itulah yang aka ditanyakan kepada setiap setiap hamba ketika ia berada di alam kubur.
Jika ditanya: “Siapa Rabbmu?” Maka jawablah: “Rabbku adalah Allah yang telah memeliharakudan memelihara semua makhluk di alam semesta ini dengan berbagai nikmat-Nya. Dialah yang aku ibadahi dan tidak ada yang patut diibadahi selain Dia semata.”
Dan jika Anda ditanya: “Apakah agamamu?” Maka jawablah: “Agamaku Islam.” Yaitu penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah dengan cara mengesakan-Nya, tunduk patuh kepada-Nya,mentaati-Nya, serta melepaskan diri dari kesyirikan dan para pelakunya.
Dan jika Anda ditanya: “Siapa Nabimu?” Maka jawablah: “Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdil Muththalib bin Hasyim.” Hasyim berasal dari suku Quraisy; Quraisy berasal dari bangsa Arab; dan bangsa Arab itu sendiri merupakan keturunan Isma’il bin Ibrahim al-Khalil. Semoga shalawat dansalam senantiasa Allah curahkan kepada Isma’il ‘alaihi sallam., kepada Ibrahim ‘alaihi sallam, juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi sallam. Continue reading →
Popularity: 15% [?]

Di antara ucapan emas Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah di dalam Shahih-nya, beliau berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah dia sedang duduk di bawah gunung dan dia merasa khawatir gunung itu akan runtuh menimpa dirinya. Dan sesungguhnya seorang fajir (ahli maksiat) melihat dosa-dosanya hanya seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya, lalu dia mengusirnya dengan cara begini -Abu Syihab berkata; yaitu dia menepisnya dengan tangan dari atas hidungnya-…” (HR. Bukhari [6308], lihat Fath al-Bari [11/118])
Komentar