<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>blog.muslimjogja.com</title>
	<atom:link href="http://blog.muslimjogja.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.muslimjogja.com</link>
	<description>info muslim dan produk islami</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 02:28:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Menangkal Kesesatan Syiah Dengan 10 Jurus ( Tingkat Awam Hingga Ulama)</title>
		<link>http://blog.muslimjogja.com/aqidah/menangkal-kesesatan-syiah-dengan-10-jurus/</link>
		<comments>http://blog.muslimjogja.com/aqidah/menangkal-kesesatan-syiah-dengan-10-jurus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 02:15:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.muslimjogja.com/?p=314</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillahirabbil ‘alamin atas segala nikmat dan karunia Allah. Dengan segala nikmat-Nya kita senantiasa diberi petunjuk dan kekuatan untuk meniti jalan istiqamah, alhamdulillah. Tanpa karunia dan perlindungan Allah, kita tak ada apa-apanya. Berikut ini adalah “10 Jurus Penangkal Kesesatan Syi’ah” yang berisi sepuluh logika dasar untuk mematahkan akidah sesat Syi’ah. Logika-logika ini bisa diajukan sebagai bahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://muslimjogja.com/produk/details/2131/34/aqidah/pustaka-muslim/ensiklopedi-sunnah-syiah-1.html"><img class="aligncenter" title="akidah syiah" src="http://jarikmataram.files.wordpress.com/2008/01/tree_ahlulbayt.jpg" alt="keyakinan syiah" width="451" height="451" /></a>Alhamdulillahirabbil ‘alamin atas segala nikmat dan karunia Allah. Dengan segala nikmat-Nya kita senantiasa diberi petunjuk dan kekuatan untuk meniti jalan istiqamah, alhamdulillah. Tanpa karunia dan perlindungan Allah, kita tak ada apa-apanya.</p>
<p>Berikut ini adalah “<strong>10 Jurus Penangkal Kesesatan Syi’ah</strong>” yang berisi sepuluh logika dasar untuk mematahkan akidah <strong>sesat Syi’ah</strong>. Logika-logika ini bisa diajukan sebagai bahan diskusi ke kalangan Syi’ah dari level awam, sampai level ulama. Setidaknya, logika ini bisa dipakai sebagai “anti virus” untuk menangkal propaganda dai-dai Syi’ah yang ingin menyesatkan umat Islam dari jalan yang lurus.</p>
<p>Kalau Anda berbicara dengan orang Syi’ah, atau ingin mengajak orang Syi’ah bertaubat dari<strong> kesesatan</strong>, atau diajak berdebat oleh orang Syi’ah, atau Anda mulai dipengaruhi dai-dai Syi’ah; coba kemukakan 10 logika dasar di bawah ini. Tentu saja, kemukakan satu per satu. Insya Allah, kaum Syi’ah akan kesulitan menjawab logika-logika ini, sehingga kemudian kita bisa membuktikan, bahwa ajaran mereka sesat dan tidak boleh diikuti.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>JURUS 1: “NABI DAN AHLUL BAIT”</strong></p>
<p>Tanyakan kepada orang Syi’ah: “Apakah Anda mencintai dan memuliakan Ahlul Bait Nabi?” Dia pasti akan menjawab: “Ya! Bahkan mencintai Ahlul Bait merupakan pokok-pokok akidah kami.” Kemudian tanyakan lagi: “Benarkah Anda sungguh-sungguh mencintai Ahlul Bait Nabi?” Dia tentu akan menjawab: “Ya, demi Allah!”</p>
<blockquote><p><span style="color: #800000;"><strong>&#8230;Kalau Syi’ah benar-benar mencintai Ahlul Bait, seharusnya mereka lebih mendahulukan Sunnah Nabi, bukan sunnah dari Ahlul Bait beliau&#8230;</strong></span></p></blockquote>
<p>Lalu katakan kepada dia: “Ahlul Bait Nabi adalah anggota keluarga Nabi. Kalau orang Syi’ah mengaku sangat mencintai Ahlul Bait Nabi, seharusnya mereka lebih mencintai sosok Nabi sendiri? Bukankah sosok Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> lebih utama daripada Ahlul Bait-nya? Mengapa kaum Syi’ah sering membawa-bawa nama Ahlul Bait, tetapi kemudian melupakan Nabi?”</p>
<p>Faktanya, ajaran Syi’ah sangat didominasi oleh perkataan-perkataan yang katanya bersumber dari Fathimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak keturunan mereka. Kalau Syi’ah benar-benar mencintai Ahlul Bait, seharusnya mereka lebih mendahulukan Sunnah Nabi, bukan sunnah dari Ahlul Bait beliau. Syi’ah memuliakan Ahlul Bait karena mereka memiliki hubungan dekat dengan Nabi. Kenyataan ini kalau digambarkan seperti: “Lebih memilih kulit rambutan daripada daging buahnya.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>JURUS 2: “AHLUL BAIT DAN ISTERI NABI” </strong></p>
<p>Tanyakan kepada orang Syi’ah: “Siapa saja yang termasuk golongan Ahlul Bait Nabi?” Nanti dia akan menjawab: “Ahlul Bait Nabi adalah Fathimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak-cucu mereka.” Lalu tanyakan lagi: “Bagaimana dengan isteri-isteri Nabi seperti Khadijah, Saudah, Aisyah, Hafshah, Zainab, Ummu Salamah, dan lain-lain? Mereka termasuk Ahlul Bait atau bukan?” Dia akan mengemukakan dalil, bahwa Ahlul Bait Nabi hanyalah Fathimah, Ali, Hasan, Husein, dan anak-cucu mereka.</p>
<blockquote><p><span style="color: #800000;"><strong>&#8230;Bagaimana bisa cucu-cucu Ali yang tidak pernah melihat Rasulullah dimasukkan Ahlul Bait, sementara istri-istri yang biasa tidur seranjang bersama Nabi tidak dianggap Ahlul Bait?&#8230;</strong></span></p></blockquote>
<p>Kemudian tanyakan kepada orang itu: “Bagaimana bisa Anda memasukkan keponakan Nabi (Ali) sebagai bagian dari Ahlul Bait, sementara istri-istri Nabi tidak dianggap Ahlul Bait? Bagaimana bisa cucu-cucu Ali yang tidak pernah melihat Rasulullah dimasukkan Ahlul Bait, sementara istri-istri yang biasa tidur seranjang bersama Nabi tidak dianggap Ahlul Bait? Bagaimana bisa Fathimah lahir ke dunia, jika tidak melalui istri Nabi, yaitu Khadijah <em>Radhiyallahu ‘Anha</em>? Bagaimana bisa Hasan dan Husein lahir ke dunia, kalau tidak melalui istri Ali, yaitu Fathimah? Tanpa keberadaan para istri shalihah ini, tidak akan ada yang disebut Ahlul Bait Nabi.”</p>
<p>Faktanya, dalam Surat Al Ahzab ayat 33 disebutkan: “<strong>Innama yuridullahu li yudzhiba ‘ankumul rijsa ahlal baiti wa yuthah-hirakum that-hira</strong>” (bahwasanya Allah menginginkan menghilangkan dosa dari kalian, para ahlul bait, dan menyucikan kalian sesuci-sucinya). Dalam ayat ini istri-istri Nabi masuk kategori Ahlul Bait, menurut Allah<em>Subhanahu Wa Ta’ala</em>. Bahkan selama hidupnya, mereka mendapat sebutan <em>Ummul Mu’minin</em> (ibunda orang-orang Mukmin) <em>Radhiyallahu ‘Anhunna</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>JURUS 3: “ISLAM DAN SAHABAT”</strong></p>
<p>Tanyakan kepada orang Syi’ah: “Apakah Anda beragama Islam?” Maka dia akan menjawab dengan penuh keyakinan: “Tentu saja, kami adalah Islam. Kami ini Muslim.” Lalu tanyakan lagi ke dia: “Bagaimana cara Islam sampai Anda, sehingga Anda menjadi seorang Muslim?” Maka orang itu akan menerangkan tentang silsilah dakwah Islam. Dimulai dari Rasulullah, lalu para Shahabatnya, lalu dilanjutkan para Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in, lalu dilanjutkan para ulama Salafus Shalih, lalu disebarkan oleh para dai ke seluruh dunia, hingga sampai kepada kita di Indonesia.”</p>
<p>Kemudian tanyakan ke dia:  “Jika Anda mempercayai silsilah dakwah Islam itu, mengapa Anda sangat membenci para Shahabat, mengutuk mereka, atau menghina mereka secara keji? Bukankah Anda mengaku Islam, sedangkan Islam diturunkan kepada kita melewati tangan para Shahabat itu. Tidak mungkin kita menjadi Muslim, tanpa peranan Shahabat. Jika demikian, mengapa orang Syi’ah suka mengutuk, melaknat, dan mencaci-maki para Shahabat?”</p>
<blockquote><p><span style="color: #800000;"><strong>&#8230;Kaum Syi’ah mencaci-maki para Shahabat dengan sangat keji. Tetapi mereka masih mengaku sebagai Muslim. Kalau memang benci Shahabat, seharusnya mereka tidak lagi memakai label Muslim&#8230;</strong></span></p></blockquote>
<p>Faktanya, kaum Syi’ah sangat membingungkan. Mereka mencaci-maki para Shahabat <em>Radhiyallahu ‘Anhum</em> dengan sangat keji. Tetapi di sisi lain, mereka masih mengaku sebagai Muslim. Kalau memang benci Shahabat, seharusnya mereka tidak lagi memakai label Muslim. Sebuah adagium  yang harus selalu diingat: “Tidak ada Islam, tanpa peranan para Shahabat!”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>JURUS 4: “SEPUTAR IMAM SYI’AH” </strong></p>
<p>Tanyakan kepada orang Syi’ah: “Apakah Anda meyakini adanya imam dalam agama?” Dia pasti akan menjawab: “Ya! Bahkan imamah menjadi salah satu rukun keimanan kami.” Lalu tanyakan lagi: “Siapa saja imam-imam yang Anda yakini sebagai panutan dalam agama?” Maka mereka akan menyebutkan nama-nama 12 imam Syi’ah. Ada juga yang menyebut 7 nama imam (versi Ja’fariyyah).</p>
<p>Lalu tanyakan kepada orang Syi’ah itu: “Mengapa dari ke-12 imam Syi’ah itu tidak tercantum nama Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali? Mengapa nama empat imam itu tidak masuk dalam deretan 12 imam Syi’ah? Apakah orang Syi’ah meragukan keilmuan empat imam mazhab tersebut? Apakah ilmu dan ketakwaan empat imam mazhab tidak sepadan dengan 12 imam Syi’ah?”</p>
<blockquote><p><span style="color: #800000;"><strong>&#8230;Mengapa dari ke-12 imam Syi’ah itu tidak tercantum nama Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali?&#8230;</strong></span></p></blockquote>
<p>Faktanya, kaum Syi’ah tidak mengakui empat imam madzhab sebagai bagian dari imam-imam mereka. Kaum Syi’ah memiliki silsilah keimaman sendiri. Terkenal dengan sebutan “Imam 12” atau <em>Imamah Itsna Asyari</em>. Hal ini merupakan bukti besar, bahwa Syi’ah bukan Ahlus Sunnah. Semua Ahlus Sunnah di muka bumi sudah sepakat tentang keimaman empat Imam tersebut. Para ahli ilmu sudah mafhum, jika disebut <em>Al Imam Al Arba’ah</em>, maka yang dimaksud adalah empat imam mazhab <em>rahimahumullah</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>JURUS 5: “ALLAH DAN IMAM SYI’AH” <span id="more-314"></span></strong></p>
<p>Tanyakan kepada orang Syi’ah: “Siapa yang lebih Anda taati, Allah Ta’ala atau imam Syi’ah?” Tentu dia akan menjawab: “Jelas kami lebih taat kepada Allah.” Lalu tanyakan lagi: “Mengapa Anda lebih taat kepada Allah?” Mungkin dia akan menjawab: “Allah adalah Tuhan kita, juga Tuhan imam-imam kita. Maka sudah sepantasnya kita mengabdi kepada Allah yang telah menciptakan imam-imam itu.”</p>
<blockquote><p><span style="color: #800000;"><strong>&#8230;sikap ideologis kaum Syi’ah lebih dekat kemusyrikan karena lebih mengutamakan pendapat imam-imam Syi’ah daripada ayat-ayat Allah&#8230;</strong></span></p></blockquote>
<p>Kemudian tanyakan ke orang itu: “Mengapa dalam kehidupan orang Syi’ah, dalam kitab-kitab Syi’ah, dalam pengajian-pengajian Syi’ah; mengapa Anda lebih sering mengutip pendapat imam-imam daripada pendapat Allah (dari Al Qur’an)? Mengapa orang Syi’ah jarang mengutip dalil-dalil dari Kitab Allah? Mengapa orang Syi’ah lebih mengutamakan perkataan imam melebihi Al Qur’an?”</p>
<p>Faktanya, sikap ideologis kaum Syi’ah lebih dekat ke kemusyrikan, karena mereka lebih mengutamakan pendapat manusia (imam-imam Syi’ah) daripada ayat-ayat Allah. Padahal dalam Surat An Nisaa’ ayat 59 disebutkan, jika terjadi satu saja perselisihan, kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah sikap Islami, bukan melebihkan pendapat imam di atas perkataan Allah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>JURUS 6: “ALI DAN JABATAN KHALIFAH”</strong></p>
<p>Tanyakan kepada orang Syi’ah: “Menurut Anda, siapa yang lebih berhak mewarisi jabatan Khalifah  setelah Rasulullah wafat?” Dia pasti akan menjawab: “Ali bin Abi Thalib lebih berhak menjadi Khalifah.” Lalu tanyakan lagi: “Mengapa bukan Abu Bakar, Umar, dan Ustman?” Maka kemungkinan dia akan menjawab lagi: “Menurut riwayat saat peristiwa Ghadir Khum, Rasulullah mengatakan bahwa Ali adalah pewaris sah Kekhalifahan.”</p>
<blockquote><p><span style="color: #800000;"><strong>&#8230;Mengapa ketika sudah menjadi Khalifah, Ali tidak pernah menghujat Khalifah Abu Bakar, Umar, dan Utsman, padahal dia memiliki kekuasaan?&#8230;</strong></span></p></blockquote>
<p>Kemudian katakan kepada orang Syi’ah itu: “Jika memang Ali bin Abi Thalib paling berhak atas jabatan Khalifah, mengapa selama hidupnya beliau tidak pernah menggugat kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, dan Khalifah Utsman? Mengapa beliau tidak pernah menggalang kekuatan untuk merebut jabatan Khalifah? Mengapa ketika sudah menjadi Khalifah, Ali tidak pernah menghujat Khalifah Abu Bakar, Umar, dan Utsman, padahal dia memiliki kekuasaan? Kalau menggugat jabatan Khalifah merupakan kebenaran, tentu Ali bin Abi Thalib akan menjadi orang pertama yang melakukan hal itu.”</p>
<p>Faktanya, sosok Husein bin Ali <em>Radhiyallahu ‘Anhuma</em> berani menggugat kepemimpinan Dinasti Umayyah di masa Yazid bin Muawiyah, sehingga kemudian terjadi Peristiwa Karbala. Kalau putra Ali berani memperjuangkan apa yang diyakininya benar, tentu Ali <em>radhiyallahu ‘anhu</em> lebih berani melakukan hal itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>JURUS 7: “ALI DAN HUSEIN”</strong></p>
<p>Tanyakan ke orang Syi’ah: “Menurut Anda, mana yang lebih utama, Ali atau Husein?” Maka dia akan menjawab: “Tentu saja Ali bin Abi Thalib lebih utama. Ali adalah ayah Husein, dia lebih dulu masuk Islam, terlibat dalam banyak perang di zaman Nabi, juga pernah menjadi Khalifah yang memimpin Ummat Islam.” Atau bisa saja, ada pendapat di kalangan Syi’ah bahwa kedudukan Ali sama tingginya dengan Husein.</p>
<p>Kemudian tanyakan ke dia: “Jika Ali memang dianggap lebih mulia, mengapa kaum Syi’ah membuat peringatan khusus untuk mengenang kematian Husein saat Hari Asyura pada setiap tanggal 10 Muharram? Mengapa mereka tidak membuat peringatan yang lebih megah untuk memperingati kematian Ali bin Abi Thalib? Bukankah Ali juga mati syahid di tangan manusia durjana? Bahkan beliau wafat saat mengemban tugas sebagai Khalifah.”</p>
<p>Faktanya, peringatan Hari Asyura sudah seperti “Idul Fithri” bagi kaum Syi’ah. Hal itu untuk memperingati kematian Husein bin Ali. Kalau orang Syi’ah konsisten, seharusnya mereka memperingati kematian Ali bin Abi Thalib<em>radhiyallahu ‘anhu</em> lebih dahsyat lagi.</p>
<blockquote><p><span style="color: #800000;"><strong>&#8230;Kalau orang Syi’ah konsisten, seharusnya mereka memperingati kematian Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu ‘anhu</em> lebih dahsyat lagi&#8230;</strong></span></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>JURUS 8: “SYI’AH DAN WANITA”</strong></p>
<p>Tanyakan ke orang Syi’ah: “Apakah dalam keyakinan Syi’ah diajarkan untuk memuliakan wanita?” Dia akan menjawab tanpa keraguan: “Tentu saja. Kami diajari memuliakan wanita, menghormati mereka, dan tidak menzalimi hak-hak mereka?” Lalu tanyakan lagi: “Benarkah ajaran Syi’ah memberi tempat terhormat bagi kaum wanita Muslimah?” Orang itu pasti akan menegaskan kembali.</p>
<p>Kemudian katakan ke orang Syi’ah itu: “Jika Syi’ah memuliakan wanita, mengapa mereka menghalalkan nikah mut’ah? Bukankah nikah mut’ah itu sangat menzalimi hak-hak wanita? Dalam nikah mut’ah, seorang wanita hanya dipandang sebagai pemuas seks belaka. Dia tidak diberi hak-hak nafkah secara baik. Dia tidak memiliki hak mewarisi harta suami. Bahkan kalau wanita itu hamil, dia tidak bisa menggugat suaminya jika ikatan kontraknya sudah habis. Posisi wanita dalam ajaran Syi’ah, lebih buruk dari posisi hewan ternak. Hewan ternak yang hamil dipelihara baik-baik oleh para peternak. Sedangkan wanita Syi’ah yang hamil setelah nikah mut’ah, disuruh memikul resiko sendiri.”</p>
<blockquote><p><span style="color: #800000;"><strong>&#8230;kaum Syi’ah tidak memberi tempat terhormat bagi kaum wanita. Praktik nikah mut’ah marak sebagai ganti seks bebas dan pelacuran&#8230;</strong></span></p></blockquote>
<p>Faktanya, kaum Syi’ah sama sekali tidak memberi tempat terhormat bagi kaum wanita. Hal ini berbeda sekali dengan ajaran Sunni. Di negara-negara seperti Iran, Irak, Libanon, dll, praktik nikah mut’ah marak sebagai ganti seks bebas dan pelacuran. Padahal esensinya sama, yaitu menghamba seks, menindas kaum wanita, dan menyebarkan pintu-pintu kekejian. Semua itu dilakukan atas nama agama. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>JURUS 9: “SYI’AH DAN POLITIK”</strong></p>
<p>Tanyakan ke orang Syi’ah: “Dalam pandangan Anda, mana yang lebih utama, agama atau politik?” Tentu dia akan berkata: “Agama yang lebih penting. Politik hanya bagian dari agama.” Lalu tanyakan lagi: “Bagaimana kalau politik akhirnya mendominasi ajaran agama?” Mungkin dia akan menjawab: “Ya tidak bisa. Agama harus mendominasi politik, bukan politik mendominasi agama.”</p>
<p>Lalu katakan ke orang Syi’ah itu: “Kalau perkataan Anda benar, mengapa dalam ajaran Syi’ah tidak pernah sedikit pun melepaskan diri dari masalah hak Kekhalifahan Ali, tragedi yang menimpa Husein di Karbala, dan kebencian mutlak kepada Muawiyah dan anak-cucunya? Mengapa hal-hal itu sangat mendominasi akal orang Syi’ah, melebihi pentingnya urusan akidah, ibadah, fiqih, muamalah, akhlak, tazkiyatun nafs, ilmu, dll. yang merupakan pokok-pokok ajaran agama? Mengapa ajaran Syi’ah menjadikan masalah dendam politik sebagai menu utama akidah mereka melebihi keyakinan kepada Sifat-Sifat Allah?”</p>
<blockquote><p><span style="color: #800000;"><strong>&#8230;Ajaran Syi’ah terjadi ketika agama dicaplok (dianeksasi) oleh pemikiran-pemikiran politik. Akidah Syi’ah mirip dengan konsep <em>Holocaust</em> Zionis internasional&#8230;</strong></span></p></blockquote>
<p>Faktanya, ajaran Syi’ah merupakan contoh telanjang ketika agama dicaplok (dianeksasi) oleh pemikiran-pemikiran politik. Bahkan substansi politiknya terfokus pada sikap kebencian mutlak kepada pihak-pihak tertentu yang dianggap merampas hak-hak imam Syi’ah. Dalam hal ini akidah Syi’ah mirip sekali dengan konsep <em>Holocaust</em> yang dikembangkan Zionis internasional, dalam rangka memusuhi Nazi sampai ke akar-akarnya. (Bukan berarti pro Nazi, tetapi disana ada sisi-sisi kesamaan pemikiran).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>JURUS 10: “SYI’AH DAN SUNNI”</strong></p>
<p>Tanyakan kepada orang Syi’ah: “Mengapa kaum Syi’ah sangat memusuhi kaum Sunni? Mengapa kebencian kaum Syi’ah kepada Sunni, melebihi kebencian mereka kepada orang kafir (non Muslim)?” Dia tentu akan menjawab: “Tidak, tidak. Kami bersaudara dengan orang Sunni. Kami mencintai mereka dalam rangka Ukhuwah Islamiyah. Kita semua bersaudara, karena kita sama-sama mengerjakan Shalat menghadap Kiblat di Makkah. Kita ini sama-sama <em>Ahlul Qiblat</em>.”</p>
<p>Kemudian katakan ke dia: “Kalau Syi’ah benar-benar mau ukhuwah, mau bersaudara, mau bersatu dengan Sunni; mengapa mereka menyerang tokoh-tokoh panutan Ahlus Sunnah, seperti Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, Khalifah Utsman, istri-istri Nabi (khususnya Aisyah dan Hafshah), Abu Hurairah, Zubair, Thalhah, dan lain-lain? Mencela, memaki, menghina, atau mengutuk tokoh-tokoh itu sama saja dengan memusuhi kaum Sunni. Tidak pernah ada ukhuwah atau perdamaian antara Sunni dan Syi’ah, sebelum Syi’ah berhenti menista para Shahabat Nabi, selaku panutan kaum Sunni.”</p>
<blockquote><p><span style="color: #800000;"><strong>&#8230;Kalau Syi’ah benar-benar mau bersaudara dengan Sunni, mengapa mereka menyerang tokoh panutan Ahlus Sunnah, seperti Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, Khalifah Utsman dan istri-istri Nabi?&#8230;</strong></span></p></blockquote>
<p>Fakta yang perlu disebut, banyak terjadi pembunuhan, pengusiran, dan kezaliman terhadap kaum Sunni di Iran, Irak, Suriah, Yaman, Libanon, Pakistan, Afghanistan, dll. Hal itu menjadi bukti besar bahwa Syi’ah sangat memusuhi kaum Sunni. Hingga anak-anak Muslim asal Palestina yang mengungsi di Irak, mereka pun tidak luput dibunuhi kaum Syi’ah.</p>
<p>Hal ini pula yang membuat Syaikh Qaradhawi berubah pikiran tentang Syi’ah. Jika semula beliau bersikap lunak, akhirnya mengakui bahwa perbedaan antara Sunni dan Syi’ah sangat sulit disatukan.</p>
<p>Demikianlah “10 Jurus Dasar Penangkal Kesesatan Syi’ah” yang bisa kita gunakan untuk mematahkan pemikiran-pemikiran kaum Syi’ah. Insya Allah tulisan ini bisa dimanfaatkan untuk secara praktis melindungi diri, keluarga, dan umat Islam dari propaganda-propaganda Syi’ah. Wallahu a’lam bis-shawaab. []</p>
<p>oleh :</p>
<p><strong>AM. Waskito</strong></p>
<p>(artikel dari sebuah situs islam)</p>
<p>Merekomendasikan :</p>
<p><a href="http://muslimjogja.com/produk/details/2131/34/aqidah/pustaka-muslim/ensiklopedi-sunnah-syiah-1.html"><img class="aligncenter" title="ensiklopedi sunnah syiah" src="http://muslimjogja.com/components/com_virtuemart/shop_image/product/Ensiklopedi_Sunn_4f2bfdc5ba78c.jpg" alt="buku ensiklopedi sunnah syiah" width="100" height="140" /></a></p>
<p>“<strong><em>Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah</em></strong>,” karya Prof Dr Ali Ahmad As-Salus, Penerbit Pustaka Al Kautsar, Jakarta ( detail buku klik gambar )</p>
<p>&nbsp;</p>
<img src="http://blog.muslimjogja.com/?ak_action=api_record_view&id=314&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.muslimjogja.com/aqidah/menangkal-kesesatan-syiah-dengan-10-jurus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adab &#8211; Adab Berdo&#8217;a Dan Bedzikir</title>
		<link>http://blog.muslimjogja.com/fikih/adab-adab-berdoa-dan-berdzikir/</link>
		<comments>http://blog.muslimjogja.com/fikih/adab-adab-berdoa-dan-berdzikir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 07:07:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab dan akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Wirid]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.muslimjogja.com/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[Dzikr dan doa memiliki adab-adab yang disyariatkan  Pertama, hendaklah Anda mengetahui bahwasanya sejarah para nabi, rasul dan orang-orang sholih menyebutkan bila mereka ingin kebutuhan mereka dikabulkan oleh Alloh, maka sebelum memohon, biasanya mereka besegera melakukan hal-hal berikut; berdiri dihadapan Robb mereka dengan merapatkan barisan, menengadahkan tangan mereka dan air mata mereka mengalir di pipi. Selanjutnya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://muslimjogja.com/produk/details/1542/47/pustaka-muslim/syarah-hisnul-muslim.html"><img class="aligncenter" title="gambar berdoa" src="http://drmaza.com/home/wp-content/berdoa.jpg" alt="ada berdoa" width="425" height="246" /></a>Dzikr dan doa memiliki <strong>adab-adab</strong> yang disyariatka<strong>n </strong> <strong></strong></p>
<p><strong>Pertama,</strong> hendaklah Anda mengetahui bahwasanya sejarah para nabi, rasul dan orang-orang sholih menyebutkan bila mereka ingin kebutuhan mereka dikabulkan oleh Alloh, maka sebelum memohon, biasanya mereka besegera melakukan hal-hal berikut; berdiri dihadapan Robb mereka dengan merapatkan barisan, menengadahkan tangan mereka dan air mata mereka mengalir di pipi. Selanjutnya, mereka memulai bertaubat dari kemaksiatan dan keluar dari penyimpangan  yang pernah mereka lakukan. Juga, mereka memasukan kekhusyukan ke dalam hati, berpegang teguh serta merendahkan dri.</p>
<p>Lalu, mereka memulai doa dengan memuji Dzat yang mereka ibadahi, menyucikan, dan mengagungkan serta memuji segala yang menjadi kekhususan-Nya. Kemudian, mereka baru memanjatkan doa mereka.</p>
<p><strong>Kedua, </strong>hendaklah dilakukan dengan ikhlas,mengharap pahala, takut siksa, merendahkan diri dan khusyuk.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> hendaklah memohon kepada Alloh dengan azam yang kuat. Dan, janganlah ia sekali-kali mengatakan, “Jika Engkau berkenan, berilah aku.”</p>
<p><strong>Keempat, </strong>hendaklah memperkuat harapannya kepada Alloh dan jangan berputus asa dari rahmat-Nya.</p>
<p><strong>Kelima,</strong> hendaklah seseorang juga mendoakan orang-orang mukmin.</p>
<p><strong>Keenam,</strong> hendaklah memulai dengan kalimat tauhid,<span id="more-302"></span></p>
<p><strong>Ketujuh,</strong> mengucapkan doa dengan suara rendah. Sehingga, tak ada yang mendengar selain yang diajak bermunajat</p>
<p><strong>Kedelapan,</strong> apabila Anda memohon sesuatu  kepada Alloh, maka hendaklah senantiasa merendahkan diri dan menjauhi sifat sombong.</p>
<p><strong>Sembilan,</strong> hendaklah orang yang berdzikir berada dalam kondisi yang paling baik.bila ia dalam kondisi duduk, maka hendaklah ia menghadap kiblat, merendahan diri, khusyuk, tenang dan menundukan kepalanya.</p>
<p><strong>Kesepuluh,</strong> terus-menerus berdoa.</p>
<p><strong>Kesebelas,</strong> mengangkat kedua tangan sambil menghadap kiblat.</p>
<p><strong>Keduabelas,</strong> hendaklah tempat yang biasa digunakan untu berdzikir kepada Alloh itu bersih dan terhindar dari segala hal yang menyibukkan.</p>
<p><strong>Ketigabelas, </strong>hendaklah mulut orang yang berdzikir itu bersih. Apabila mulutnya mengeluarkan bau, maka hendaknya dihilangkan dengan bersiwak (menggosok gigi) atau berkumur dengan air.</p>
<p><strong>Keempatbelas,</strong> bahwasanya dzikir itu disukai dalam setiap kondisi,selain kondisi-kondisi yang dikecuaikan syariat.</p>
<p><strong>Kelimabelas,</strong> apabila diucapkan salam kepadanya, maka ia harus membalas salam tersebut, kemudian melanjutkan kembali dzikirnya.</p>
<p>diambil dari kitab di bawah ini</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://muslimjogja.com/produk/details/1542/47/pustaka-muslim/syarah-hisnul-muslim.html"><img class="alignleft" title="Buku Syarah hisnul muslim" src="http://muslimjogja.com/components/com_virtuemart/shop_image/product/Syarah_Hisnul_Mu_4e723b00d833f.jpg" alt="penjelasan tentang doa" width="99" height="140" /></a></p>
<p>Kitab Syarah Hisnul Muslim yang hadir di hadapan pembaca ini adalah penjelasan kitab Hisnul Muslim karya Syaikh Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qohtoni yang paling diminati, lengkap, mudah, dan  gambling untuk menunjukan cara berdzikir dan berdoa kepada Alloh sesuai dengan tuntunan Rosullulloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Disertai dengan takhrij hadits dan tashih dari penulis aslinya, menjadikan buku ini semakin berbobot dan sangat layak untuk dimiliki setisp muslim.</p>
<p>Keterangan :</p>
<p><strong>Harga:</strong> Rp76.000,00 ( belum diskon )<br />
<strong>Pengarang:</strong> Fariq Gasim Anuz dan Abu Zahid<br />
<strong>Penerbit:</strong> PUSTAKA AL-QOWAM<br />
<strong>Berat:</strong> 0,9 kg</p>
<p>beli ? klik <a title="buku syarah hisnul muslim" href="http://muslimjogja.com/produk/details/1542/47/pustaka-muslim/syarah-hisnul-muslim.html">disini</a> ( http://muslimjogja.com/produk/details/1542/47/pustaka-muslim/syarah-hisnul-muslim.html )</p>
<img src="http://blog.muslimjogja.com/?ak_action=api_record_view&id=302&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.muslimjogja.com/fikih/adab-adab-berdoa-dan-berdzikir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hal-hal yang Wajib Diketahui Setiap Muslim</title>
		<link>http://blog.muslimjogja.com/aqidah/hal-hal-yang-wajib-diketahui-setiap-muslim/</link>
		<comments>http://blog.muslimjogja.com/aqidah/hal-hal-yang-wajib-diketahui-setiap-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Dec 2011 04:38:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[pustaka imam syafi'i]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.muslimjogja.com/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[Sebagaimana diketahui  oleh ummat Islam, berdasarkan  dalil-dalil syari’at dari al-Qur’an dan as-Sunnah, bahwasanya setiap amal dan ucapan seseorang akan dipandang benar dan dapat diterima jika berdasar ‘aqidah yang benar. Apabila ‘aqidahnya tidak benar, maka setiap amalan ucapannnya akan menjadi batal atau tidak sah. Risalah ini diterjemahkan dari kitab at-Tanbiihat al-Mukhtasharah Syarh al-Waajibaat al-Mutahattimat al-Ma’rifah ‘alaa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.tokoihya.com/produk/details/2070/34/aqidah/pustaka-muslim/hal-hal-yang-wajib-diketahui-setiap-muslim.html?manufacturer_id=28"><img class="alignleft" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;" title="hal yang wajib diketahui" src="http://www.tokoihya.com/components/com_virtuemart/shop_image/product/Hal_hal_yang_Waj_4ef94a5482271.jpg" alt="al wajibat" width="205" height="274" /></a>Sebagaimana diketahui  oleh ummat Islam, berdasarkan  dalil-dalil syari’at dari al-Qur’an dan as-Sunnah, bahwasanya setiap amal dan ucapan seseorang akan dipandang benar dan dapat diterima jika berdasar ‘aqidah yang benar. Apabila ‘aqidahnya tidak benar, maka setiap amalan ucapannnya akan menjadi batal atau tidak sah.</p>
<p>Risalah ini diterjemahkan dari kitab at-Tanbiihat al-Mukhtasharah Syarh al-Waajibaat al-Mutahattimat al-Ma’rifah ‘alaa Kulli Muslim wa Muslimah, yang ditulis secara sistematis dan disertai penjelasan yang luas oleh Ibrahim bin asy-Syaikh Shalih bin Ahmad al-Khuraisi.</p>
<p>Dalam risalah ini dijelaskan tiga landasan pokok yang wajib dipelajari setiap muslim dan muslimah, yaitu mengenal Allah ‘azza wa jalla, mengenal agama-Nya (Islam),dan mengenal Nabi-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi sallam. Ketiga hal itulah yang aka ditanyakan kepada setiap setiap hamba ketika ia berada di alam kubur.</p>
<p>Jika ditanya: “Siapa Rabbmu?” Maka jawablah: “Rabbku adalah Allah yang telah memeliharakudan memelihara semua makhluk di alam semesta ini dengan berbagai nikmat-Nya. Dialah yang aku ibadahi dan tidak ada yang patut diibadahi selain Dia semata.”</p>
<p>Dan jika Anda ditanya: “Apakah agamamu?” Maka jawablah: “Agamaku Islam.” Yaitu penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah dengan cara mengesakan-Nya, tunduk patuh kepada-Nya,mentaati-Nya, serta melepaskan diri dari kesyirikan dan  para pelakunya.</p>
<p>Dan jika Anda ditanya: “Siapa Nabimu?” Maka jawablah: “Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdil Muththalib bin Hasyim.” Hasyim berasal dari suku Quraisy; Quraisy berasal dari bangsa Arab; dan bangsa Arab itu sendiri merupakan keturunan Isma’il bin Ibrahim al-Khalil. Semoga shalawat dansalam senantiasa Allah curahkan kepada Isma’il ‘alaihi sallam., kepada Ibrahim ‘alaihi sallam, juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi sallam.<span id="more-292"></span></p>
<p>Risalah ini juga membahas masalah yang paling agung dan yang menjadi pondasi bagi dienul Islam, yaitu Tauhid. Hala itu karena hanya untuk mentauhidkan Allahlah, maka Dia menciptakan jindan manusia, menurunkan Kitab-Kitab-Nya, mengutus para Rasul-Nya, serta menciptakan Surga dan Neraka.</p>
<p>Keterangan :</p>
<p><span style="font-size: small;"><strong><span style="color: #888888;">Penulis</span></strong> : </span><span style="font-size: small;">Ibrahim bin asy-Syaikh Shalih bin Ahmad al-Khuraishi</span></p>
<p>Judul Asli : <span style="font-size: small;">at-Tanbiihaat al-Mukhtasharah Syarh al-Waajibaat al-Mutahattimaat al-Ma&#8217;rifah&#8217;alaa Kulli Muslim wa Muslimah</span></p>
<p>Penerbit : Pustaka Imam Syafii</p>
<p>Fisik : <strong><span style="font-size: small;">15,5 X 23,5 cm, 0,4 Kg, </span></strong><strong><span style="font-size: small;">XIX + 332 Lembar B/W, Soft cover</span></strong></p>
<p>beli ? klik <a href="produk/details/2070/34/aqidah/pustaka-muslim/hal-hal-yang-wajib-diketahui-setiap-muslim.html?manufacturer_id=28">disini</a> ( http://www.tokoihya.com/produk/details/2070/34/aqidah/pustaka-muslim/hal-hal-yang-wajib-diketahui-setiap-muslim.html?manufacturer_id=28 )</p>
<img src="http://blog.muslimjogja.com/?ak_action=api_record_view&id=292&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.muslimjogja.com/aqidah/hal-hal-yang-wajib-diketahui-setiap-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manhaj Aqidah Imam Syafii</title>
		<link>http://blog.muslimjogja.com/aqidah/manhaj-aqidah-imam-syafii/</link>
		<comments>http://blog.muslimjogja.com/aqidah/manhaj-aqidah-imam-syafii/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 04:18:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[pustaka imam syafi'i]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.muslimjogja.com/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[Masalah aqidah merupakan dasar dan pondasi bagi agama seseorang, ia menjadi landasan setiap yang dilakukannya, dan ia juga menjadi penentu bagi kehidupan manusia. Buku ini adalah buku yang sangat baik dan berharga, yang mengupas manhaj (metode) ber’aqidah seorang imam besar  yang diikuti oleh jutaan orang di seluruh penjuru dunia dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.tokoihya.com/produk/details/491/34/aqidah/pustaka-muslim/manhaj-aqidah-imam-syafi%27i.html"><img class="alignleft" title="Buku Manhaj Aqidah Imam Syafii" src="http://www.tokoihya.com/components/com_virtuemart/shop_image/product/Manhaj_Aqidah_Im_4d48c99c69dad.jpg" alt="manhaj aqidah imam syafii" width="90" height="131" /></a>Masalah aqidah merupakan dasar dan pondasi bagi agama seseorang, ia menjadi landasan setiap yang dilakukannya, dan ia juga menjadi penentu bagi kehidupan manusia.</p>
<p>Buku ini adalah buku yang sangat baik dan berharga, yang mengupas manhaj (metode) ber’aqidah seorang imam besar  yang diikuti oleh jutaan orang di seluruh penjuru dunia dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu Imam asy-Syafi’i. Beliau juga dikenal sebagai pembelah sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi sallam dan satu imam madzhab yang empat.</p>
<p>Dasar-dasar Imam asy-Syafi’i dalam menetapkan ‘aqidah dan perbandingannya dengan Manhaj Salaf dan Mutakallimin. Apabila Madzhab Salaf  memprioritaskan dalil naqli yang tertuang dalam al-Qur’an dan as-Sunnah,dan akal ikut kepadanya; madzhab Khalaf sebaliknya, mereka mendahulukan dalil ‘aqli.</p>
<p>Inilah dasar metode Mutakallimin yang paling utama. Karena dasar inilah, mereka menolak banyak masalah ‘aqidah yang telah jelas-jelas ditetapkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah dengan dalih masalah-masalah tersebut bertentangan dengan akal/rasio.</p>
<p>Perenungan dan pemahaman akal sehat yang sesuai fithrah bukanlah yang dimaksud dengan ‘aqli. Sebab, sampai kapan pun juga akal seperti itu tidak pernah bertentangan dengan syari’at, bahkan setiap apa yang dibawa oleh al-Qur’an dan as-Sunnah niscaya akan diterima oleh akal seperti ini.<span id="more-286"></span></p>
<p>Pemikiran dan pandangan yang mereka namakan dengan hal-hal yang bersifat rasional adalah dasar agama menurut pendapat mereka, dan itulah yang mereka jadikan sebagai sarana untuk menetapkan sesuatu atau menolaknya. Jadi, dalil naqli dihadapkan kepada akal. Apabila cocok (dengan akal), akan diterimanya;  jika bertentangan (dengan akal), akan ditolaknya sekalipun cara penolakan mereka berbeda-beda.</p>
<p>Dasar-dasar Imam asy-Syafi’i dalam menetapkan ‘aqidah. Imam asy-Syafi’i memandang bahwa al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan dua sumber hukum dan rujukan bagi seorang pemberi fatwa. Oleh karena itu, Imam asy-Syafi’i ketika menetapkan unsur ’aqidah,ia memulainya dengan menyebutkan nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah dan berargumentasi dengan keduanya untuk menghadapi para penentangnya. Tidak kita temukan bahwa Imam asy-Syafi’i melakukan takwil terhadap nash-nash itu dan tida pula kita dapati bahwa beliau mengembalikan nash-nash itu kepada penafsiran dan pendapat ahli ilmu kalam.</p>
<p>Imam asy-Syafi’i melihat bahwa dalam syari’at kedudukan as-Sunnah seperti kedudukan al-Qur’an. Maka dari itu, apa yang ditetapkan dalam as-Sunnah seperti apa yang ditetapkan dalam al-Qur’an.begitu pula sebaliknya, apa yang diharamkan oleh as-Sunnah sama dengan apa yang diharamkan dalam al-Qur’an.</p>
<p>Seperti itulah sedikit gambaran ‘aqidah Imam asy-Syafi’i. Bagaimana beliau berpegang teguh kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dalam ber’aqidah.</p>
<p>Buku ini sangat penting dimiliki dan dibaca kaum Muslimin, baik dia khatib dan juru dakwah ataupun para penuntut ilmu dan orang awam, terlebih lagi di negeri kita yang mayoritas adalah pengikut madzhab Syafi’i. Buku ini juga membahas biografi, riwayat pendidikan dan kegiatan keilmuannnya. Dan yang paling penting adalah membahas metodelogi Imam asy-Syafi’i dalam ber’aqidah.</p>
<p><strong>Keterangan :</strong></p>
<p><strong>Penulis :</strong> Dr.Muhammad bin &#8216;Abdul Wahab al-&#8217;Aqil</p>
<p><strong>Penerbit :</strong> <a href="http://www.tokoihya.com/component/search/Pustaka%2BImam%2BSyafi%2527i.html?ordering=&amp;searchphrase=all">Pustaka Imam Syafi&#8217;i</a></p>
<p><strong>Fisik : </strong><strong>17 X 24cm,</strong><strong>XX + 658 Lembar B/W</strong>,<strong>Hard Cover, 1,2 kg</strong></p>
<p>beli <a title="Manhaj Aqidah Imam Syafii" href="http://blog.muslimjogja.com/aqidah/manhaj-aqidah-imam-syafii/">disini</a> ( http://www.tokoihya.com/produk/details/491/34/aqidah/pustaka-muslim/manhaj-aqidah-imam-syafi%27i.html )</p>
<img src="http://blog.muslimjogja.com/?ak_action=api_record_view&id=286&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.muslimjogja.com/aqidah/manhaj-aqidah-imam-syafii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Gunung Dan Lalat</title>
		<link>http://blog.muslimjogja.com/tazkiyatun-nafs/antara-gunung-dan-lalat/</link>
		<comments>http://blog.muslimjogja.com/tazkiyatun-nafs/antara-gunung-dan-lalat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jun 2011 14:01:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab dan akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[tazkiyatun nafs]]></category>
		<category><![CDATA[obat hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.muslimjogja.com/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[Di antara ucapan emas Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah di dalam Shahih-nya, beliau berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah dia sedang duduk di bawah gunung dan dia merasa khawatir gunung itu akan runtuh menimpa dirinya. Dan sesungguhnya seorang fajir (ahli maksiat) melihat dosa-dosanya hanya seperti seekor lalat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p><img class="alignleft" style="margin-left: 7px; margin-right: 7px;" title="mountain" src="https://lh4.googleusercontent.com/-fsAGKOEfayU/TfNz7_3tUoI/AAAAAAAADXs/c-7FxTEC6aA/s288/DSCF4608r.jpg" alt="" width="288" height="216" />Di antara ucapan emas Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu </em>adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> di dalam <em>Shahih</em>-nya, beliau berkata, <em>“Sesungguhnya  seorang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah dia sedang duduk di  bawah gunung dan dia merasa khawatir gunung itu akan runtuh menimpa  dirinya. Dan sesungguhnya seorang fajir (ahli maksiat) melihat  dosa-dosanya hanya seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya,  lalu dia mengusirnya dengan cara begini -Abu Syihab berkata; yaitu dia  menepisnya dengan tangan dari atas hidungnya-&#8230;”</em> (<strong>HR. Bukhari [6308]</strong>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [11/118])</p>
<p>Riwayat  ini menunjukkan kepada kita bagaimanakah semestinya sikap seorang  mukmin terhadap dosa-dosanya. Semestinya seorang mukmin merasa takut  atas dosa-dosanya, karena sedikitnya rasa takut akan hal itu merupakan  pertanda kefajiran dirinya (lihat <em>Fath al-Bari</em> [11/120])<span id="more-278"></span></p>
<p>Memang benar wahai saudaraku, bahwa rahmat Allah itu mengalahkan murka-Nya. Sebagaimana yang diterangkan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam hadits Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau bersabda, <em>“Tatkala  Allah selesai menciptakan segenap makhluk maka Allah tuliskan di dalam  Kitab-Nya yang ia terletak di sisi-Nya di atas Arsy, yang isinya:  Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku.”</em> (<strong>HR. Bukhari [3194] dan Muslim [2751]</strong>). Namun, hal itu bukan berarti kita boleh meremehkan maksiat&#8230;!</p>
<p>Memang  benar wahai saudaraku, bahwa Allah lebih sayang kepada hamba-Nya  daripada seorang ibu terhadap anaknya. Sebagaimana yang dikatakan oleh  Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam hadits Umar bin Khattab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau bersabda, <em>“Sungguh Allah lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.”</em> (<strong>HR. Bukhari [5999] dan Muslim [2754]</strong>). Namun, ini juga bukan berarti kita boleh menyepelekan dosa&#8230;!</p>
<p>Lihatlah, sosok manusia yang telah diampuni dosanya, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>&#8230; Bagaimana akhlak beliau kepada Tuhannya dan bagaimana cara beliau memandang dirinya&#8230; al-Agharr al-Muzani <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sungguh aku ini memohon ampun kepada Allah dalam sehari sampai seratus kali.”</em> (<strong>HR. Muslim [2702]</strong>)</p>
<p>Oleh  sebab itu, kita dapati bahwa generasi terbaik umat ini -yaitu para  sahabat- sebagai generasi yang paling memiliki rasa takut kepada  Allah&#8230; Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>“Sesungguhnya  kalian akan melakukan perbuatan-perbuatan yang menurut pandangan kalian  lebih ringan daripada rambut, akan tetapi bagi kami yang hidup di masa  Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam hal itu termasuk perkara yang  mencelakakan.”</em> (<strong>HR. Bukhari [6492]</strong>)</p>
<p>Bahkan,  kedalaman ilmu serta kefakihan seseorang itu diukur dengan rasa  takutnya kepada Allah, bukan semata-mata dengan banyaknya pengetahuan  yang dia miliki. Mujahid bin Jabr <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Seorang  fakih adalah yang merasa takut kepada Allah meskipun ilmunya sedikit.  Adapun orang jahil adalah yang bermaksiat/durhaka kepada Allah meskipun  ilmunya banyak.”</em> (dinukil dari <em>Kaifa Tatahammasu li Thalabil &#8216;Ilmi Syar&#8217;i</em>, hal. 178)</p>
<p>Iman  bukanlah sekedar kata-kata. Akan tetapi ia adalah keyakinan di dalam  hati yang dibenarkan dengan amalan. Apabila seorang hamba melakukan dosa  hilanglah sebagian iman dari dalam dirinya. Apabila dosanya semakin  besar atau semakin menumpuk imannya pun akan semakin menipis. Sudah  semestinya seorang hamba menyadari akan dosa-dosanya dan menyesalinya,  kemudian meninggalkan dosa-dosa itu serta bertekad untuk tidak  mengulanginya. Mumpung pintu taubat masih terbuka&#8230;</p>
<p>Oleh Ustadz Ari Wahyudi,S.Si</p>
<p>sumber tulisan :<a rel="nofollow" href="http://goo.gl/qTVr9" target="_blank"> http://goo.gl/qTVr9<br />
</a></p>
<p>Link bermanfaat:</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://radiomuslim.com/" target="_blank">http://radiomuslim.com/</a></p>
<p><a rel="nofollow" href="http://muslim.or.id/" target="_blank">http://muslim.or.id/</a></p>
<p><a rel="nofollow" href="http://buletin.muslim.or.id/" target="_blank">http://buletin.muslim.or.id/</a></p>
<p><a rel="nofollow" href="http://mahadilmi.wordpress.com/" target="_blank">http://mahadilmi.wordpress.com/</a></p>
<p><a rel="nofollow" href="http://badaronline.com/" target="_blank">http://badaronline.com/</a></p>
<p><a rel="nofollow" href="http://muslimah.or.id/" target="_blank">http://muslimah.or.id/</a></p>
<p><a rel="nofollow" href="http://infokajian.com/" target="_blank">http://infokajian.com/</a></p>
<p><a rel="nofollow" href="http://www.sdityaabunayya.com/" target="_blank">http://www.sdityaabunayya.com/</a></p>
</div>
</div>
<img src="http://blog.muslimjogja.com/?ak_action=api_record_view&id=278&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.muslimjogja.com/tazkiyatun-nafs/antara-gunung-dan-lalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukankah Telah Terbukti bahwa Terapi Musik Bermanfaat?!</title>
		<link>http://blog.muslimjogja.com/kesehatan/bukankah-telah-terbukti-bahwa-terapi-musik-bermanfaat/</link>
		<comments>http://blog.muslimjogja.com/kesehatan/bukankah-telah-terbukti-bahwa-terapi-musik-bermanfaat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2011 00:53:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.muslimjogja.com/?p=275</guid>
		<description><![CDATA[Inilah mungkin alasan yang dikemukakan oleh orang – orang yang hatinya belum sepenuhnya menerima penjelasan di atas dengan penuh kepasrahan. Mereka berdalih dengan “bukti – bukti ilmiah” dari Al – Qur&#8217;an dan As – Sunnah. Anggapan mereka, bukti bahwa terapi musik itu bermanfaat adalah “bukti” tentang bolehnya menggunakan musik sebagai salah satu bentuk terapi pengobatan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.tokoihya.com/produk/details/558/ke-mana-seharusnya-anda-berobat?.html"><img class="alignleft" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;" title="kemana seharusnya anda berobat" src="http://www.tokoihya.com/components/com_virtuemart/shop_image/product/Ke_Mana_Seharusn_4de97f868d24e.jpg" alt="kedokteran islam" width="117" height="174" /></a>Inilah mungkin alasan yang dikemukakan oleh orang – orang yang hatinya belum sepenuhnya menerima penjelasan di atas dengan penuh kepasrahan. Mereka berdalih dengan “bukti – bukti ilmiah” dari Al – Qur&#8217;an dan As – Sunnah. Anggapan mereka, bukti bahwa terapi musik itu bermanfaat adalah “bukti” tentang bolehnya menggunakan musik sebagai salah satu bentuk terapi pengobatan.</p>
<p>Untuk membantah anggapan tersebut, maka perlu kita ketahui tentang suatu kaidah penting dalam agama ini sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama – rahimaullah -. Kaidah tersebut adalah,</p>
<blockquote><p><em>” Syari&#8217;at tidaklah memerintahkan sesuatu, kecuali di dalamnya murni terdapat manfaat ( tidak menimbulkan bahaya sama sekali ) atau manfaatnya jauh lebih besar daripada bahaya yang ditimbulkan. Dan tidaklah syari&#8217;at melarang sesuatu, kecuali di dalamnya murni terdapat bahaya ( tidak ada manfaatnya sama sekali ) atau bahaya yang ditimbulkan jauh lebih banyak daripada manfaat yang didapatkan”</em></p></blockquote>
<p><span id="more-275"></span>Kaidah ini bukanlah kaidah yang dibuat – buat tanpa dasar. Akan tetapi, kaidah ini disimpulkan dari banyak ayat dalam Al-Qur&#8217;an. Diantaranya adalah firman Allah – azza wa jalla &#8211; :</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="2" width="665">
<colgroup>
<col width="661"></col>
</colgroup>
<tbody>
<tr>
<td width="661" height="59">“<em>Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku 			adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah 			melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia 			memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. “ 			[ an-Nahl 16-90 ]</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Allah – azza wa jalla – juga berfirman :</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="2" width="665">
<colgroup>
<col width="661"></col>
</colgroup>
<tbody>
<tr>
<td width="661" height="30">“<em>Katakanlah: &#8220;Tuhanku hanya mengharamkan 			perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, 			dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, 			(mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah 			tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) 			mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.&#8221; [ 			al-A'raf 7:33 ]</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Berdasarkan kaedah ini, jika Allah -subahanu wa ta&#8217;alaa- dan Rasulnya -shalallahu &#8216;alaihi wa sallam- melarang sesuatu, maka hal ini tidak terlepas dari dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, karena di dalamnya terkandung manfaat 100%;tidak ada manfaatnya sama sekali. Misalnya kesyirikan, kekufuran, dan kezhaliman. Demikian pula dari belajar ilmu sihir, karena tidak ada manfaatnya sama sekali<sup><a href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a></sup></p>
<p>Kemungkinan kedua, bisa jadi sesuatu tersebut memang ada manfaatnya, tetapi bahaya yang ditimbulkan jauh lebih bahaya daripada manfaat yang ditimbulkan. Contohnya adalah khamr, Allah – subhanahu wa ta&#8217;laa – tidak mengingkari bahwa di dalam khamr memang terdapat manfaat bagi manusia, misalnya dalam perdagangan. Akan tetapi, karena bahanya jauh lebih besar maka Allah mengharamkannya, Allah – subhanahu wa ta&#8217;alaa – berfirman :</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="2" width="665">
<colgroup>
<col width="661"></col>
</colgroup>
<tbody>
<tr>
<td width="661" height="30">“<em>Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan 			judi. Katakanlah: &#8220;Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan 			beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar 			dari manfaatnya.&#8221; [ al-Baqarah 2:219 ]</em><sup><em><a href="#sdfootnote2sym"><sup>2</sup></a></em></sup></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Oleh karena itu, berdasarkan kaidah ini pula kita sampaikan bahwa kalaulah memang di dalam terapi musik itu ada manfaatnya – misalnya untuk perkembangan otak dan janin, meningkatkan daya ingat, dan lain sebagainya &#8211; , maka ketahuilah bahwa di balik itu semua pasti terdapat  bahaya yang jauh lebih besar. Bahaya tersebut bisa jadi telah kita ketahui ( sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama<sup><a href="#sdfootnote3sym"><sup>3</sup></a></sup> ). Namun, bisa jadi ada yang belum kita ketahui. Selain itu, seandaina di dalam musik terdapat berbagai manfaat bagi kesehatan, maka tentu Allah – subhanahu wa ta&#8217;alaa- telah mengetahui terlebih dahulu hal itu semua jauh sebelum para ilmuwan abad ini melakukan riset dan penelitian ilmiah tentang musik serta berhasil membuktikan bahwa di dalam terapi musik ada manfaatnya. Meskipun demikian, Allah – subhanahu wa ta&#8217;alaa – tetap mengharamkannya dan kita tidak mendapati pengecualian sedikitpun dari Allah – azza wa jalla – dan RasulNya – shalallahu &#8216;alaihi wa sallam – tentang halalnya musik untuk tujuan pengobatan<sup><a href="#sdfootnote4sym"><sup>4</sup></a> </sup></p>
<p>Kita tidak mendapati adanya dalil dari Al-Qur&#8217;an atau As-Sunnah yang menjelaskan bahwa,” <strong>Nyanyian dan musik hukumnya haram, kecuali untuk terapi atau pengobatan </strong>“</p>
<p>Penjelasan yang lain, telah kita ketahui bersama tentang hukum – hukum mengambil sebab dalam pembahasan sebelumnya. Kaidah pertama menyatakan, bahwa sebab yang diambil harus terbukti secara syar&#8217;i dan qadari. Sedangkan sebab yang terbukti secara qadari tidak boleh berasal dari sesuatu yang haram. Dan musik termasuk dalam kaidah ini. Meskipun terbukti secara qadari ( yaitu melalui penilitan ilmiah ), akan tetapi hukum asal musik adalah haram. Sehingga kita tidak boleh menjadikannya sebagai terapi pengobatan, Rasulullah – shalallahu &#8216;alaihi wa sallam – bersabda :</p>
<p>“ Sesungguhnya Allah mencipataka penyakit dan obatnya. Maka berobatlah, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram “<sup><a href="#sdfootnote5sym"><sup>5</sup></a></sup></p>
<p>Semoga Allah – azza wa jalla – menjaga kita semua dari kesesatan hawa nafsu dan melapangkan dada kita untuk menerima cahaya petunjuk dan kebenaran.</p>
<h2>Ke Mana Seharusnya Anda Berobat?</h2>
<p>Penulis : <strong>M. Saifudin Hakim</strong></p>
<p>Penerbit : <strong>WIP [ AlQowam Group ]</strong></p>
<p><strong>buku bisa didapatka di ( </strong>http://www.tokoihya.com/produk/details/558/ke-mana-seharusnya-anda-berobat?.html )</p>
<div>
<p><a href="#sdfootnote1anc">1</a>Sebagaimana 	firma Allah – azza wa jalla – dalam surat al-Baqarah [2]:102</p>
</div>
<div>
<p><a href="#sdfootnote2anc">2</a>Penjelasan 	dari kaidah ini penulis ringkas dari kitab al-Qawaa&#8217;id wal Ushul 	Jami&#8217;ah hal 9 – 13</p>
</div>
<div>
<p><a href="#sdfootnote3anc">3</a>Hikmah 	– hikmah diharamkannya musik dapat dilihat pada kitab Tahrimu 	Alatith Tharb atau edisi terjemahannya</p>
</div>
<div>
<p><a href="#sdfootnote4anc">4</a>Adapun 	pengecualian yang kita dapatkan dalil penjelasannya dari as-Sunnah 	adalah diperbolehkan bagi para wanita untuk memeriahkan pernikahan 	dengan memukul rebana saja dan menyanyikan nyanyian – nyayian yang 	mubah yang tidak pernah menyebut – nyebut kemesuman, tidak 	mendorong berbuat dosa, dan tidak menyebutkan hal – hal yang 	haram. Nyanyian tersebut tidak boleh diiringi dengan alat  musik 	selain rebana . Dalam sebuah hadist, Rabi&#8217; binti Mu&#8217;awwadz bin 	Arfa&#8217;,” Nabi – shalallahu &#8216;alaihi wa sallam – datang untuk 	masuk ketika aku menikah, lalu beliau duduk di atas tempat tidurku 	seperti kamu duduk di dekatku. Lalu gadis – gadis kami memukul 	rebana dan mengenang kebaikan bapak – bapak kami yang gugur dalam 	perang Badar. Ketika salah seorang dari mereka mengatakan, “ Dan 	di tengah kita ada seorang Nabi yang mengetahui apa yang akan 	terjadi besok.&#8217; Maka beliau – shalallahu &#8216;alaihi wa sallam – 	bersabda, “ Tinggalkan ( perkataan ) itu, dan katakanlah apa yang 	telah engkau ucapkan sebelumnya&#8217; “ ( HR. Bukhari, Abu Dawud, 	Tirmidzi, dan Ibnu Majah ) Lihat Shahih Fikih Sunnah (III/178).  	Pengecualian lainnya adalah diperbolehkannya para wanita untuk 	memainkan rebana pada saat hari raya. Aisyah – radhiyallahu &#8216;anha 	– berkata,” Rasulullah masuk menemuiku. Di dekatku ada dua anak 	perempuan yang sedang menyanyikan nyanyian perang Bu&#8217;ats ( yaitu 	perang antara Bani Aus dan Khazraj ). Beliau berbaring di kasur dan 	memalingkan wajahnya. Lalu Abu Bakar masuk dan berkata kepadanya, “ 	Seruling setan di sisi Nabi -shalallahu &#8216;alaihi wa sallam- ? “ 	Maka Rasulullah memandang Abu Bakar dan berkata 	kepadanya,”Tinggalkanlah keduanya” Ketika beliau sudah lupa, 	maka aku memberi insyarat kepada keduanya, kemudian mereka pun 	keluar.” Dalam riwayat yang lain Rasulullah bersabda, “ Wahai 	Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum mempunyai hari raya. Dan hari 	raya kita adalah hari ini” ( HR. Bukhari Muslim, Ahmad, dan Ibnu 	Majah ). Lihat Ahkamul &#8216;Idain, hal 8.</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><a href="#sdfootnote5anc">5</a>Hadits 	ini dihasankan oleh Syaikh Albani dalah Silisilah ash-Shahihah, 	hadist no 1633</p>
</div>
<img src="http://blog.muslimjogja.com/?ak_action=api_record_view&id=275&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.muslimjogja.com/kesehatan/bukankah-telah-terbukti-bahwa-terapi-musik-bermanfaat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Figur Rasulullah</title>
		<link>http://blog.muslimjogja.com/sejarah/figur-rasulullah/</link>
		<comments>http://blog.muslimjogja.com/sejarah/figur-rasulullah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 May 2011 08:02:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Teladan]]></category>
		<category><![CDATA[imam tirmidzi]]></category>
		<category><![CDATA[pustaka assunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.muslimjogja.com/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[Diantara gambaran kehidupan beliau dalam berbagi kepada umatnya, beliau mendahulukan orang-orang yang lebih utama, beliau membagi bergantung pada keutamaan mereka dalam agama. Sebagian mereka ada yang memiliki satu kebutuhan,sebagaian lagi ada yang memiliki dua kebutuhan, dan sebagian lagi mempunyai banyak kebutuhan. Maka beliau menyibukkan diri dengan mereka dan menyibukkan mereka dengan sesuatu yang baik untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 269px"><a href="http://www.tokoihya.com/produk/details/555/figur-rasulullah.html"><img class=" " title="Figur Rasulullah" src="https://lh6.googleusercontent.com/-CMoEdDoZrOs/Td9VGAqCUII/AAAAAAAADU0/2xX0whkWuOs/s800/figur-rasulullahT.jpg" alt="buku figur rasulullah" width="259" height="384" /></a><p class="wp-caption-text">PS-FG</p></div>
<p>Diantara gambaran kehidupan beliau dalam berbagi kepada umatnya, beliau mendahulukan orang-orang yang lebih utama, beliau membagi bergantung pada keutamaan mereka dalam agama. Sebagian mereka ada yang memiliki satu kebutuhan,sebagaian lagi ada yang memiliki dua kebutuhan, dan sebagian lagi mempunyai banyak kebutuhan. Maka beliau menyibukkan diri dengan mereka dan menyibukkan mereka dengan sesuatu yang baik untuk mereka serta menyibukkan ummat dari bertanya kepada beliau dan memberitahukan apa yang patut bagi mereka. Beliau bersabda,” Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir. Sampaikanlah kepadaku suatu kebutuhan orang yang tidak sanggup menyampaikannya. Karena, barangsiapa yang menyampaikan kepada penguasa suatu kebutuhan orang yang tidak sanggup untuk menyampaikannya,Allah akan menguatkan kedua kakinya<sup><a name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a></sup> di hari Kiamat “<sup><a name="sdfootnote2anc" href="#sdfootnote2sym"><sup>2</sup></a></sup></p>
<p>Kepada beliau tidak disebutkan selain itu,beliau tidak menerima dari seorang pun selain itu. Tokoh – tokoh mereka ( kalangan sahabat ) masuk menemui beliau, mereka tidak bubar kecuali ( setelah mendapatkan &#8216;santapan&#8217; ruhani dari beliau ), mereka keluar dan menjadi petunjuk ( bagi Orang lain ) dengan membawa kebaikan.</p>
<p>Al-Hussain berkata : “ Kemudian aku bertanya kepada ayahku tentang tata-cara beliau keluar, apa yang  beliau lakukan? Ayahku menjawab: “ Rasulullah – shalallahu &#8216;alayhi wa sallam – selalu menahan lidahnya kecuali apa yang penting baginya. Beliau berlemah lembut kepada mereka dan tidak membuat mereka lari<sup><a name="sdfootnote3anc" href="#sdfootnote3sym"><sup>3</sup></a></sup> , beliau memuliakan orang mulia dari setiap kaum dan menjadikannya pemimpin bagi kaum tersebut. Beliau berhati – hati dari setiap orang dan menjaga diri dari mereka tanpa menghilangkan lemah – lembut dalam berperilaku dan bertutur kata terhadap siapapun.<span id="more-270"></span></p>
<p>Beliau selalu mencari tahu tentang keadaan para sahabatnya, beliau selalu bertanya tentang kondisi masyarakat disekitarnya. Beliau menyatakan baik terhadap sesuatu yang baik dan menguatkannya, serta menyatakan jelek terhadap sesuatu yang jelek dan melemahkannya.</p>
<p>Beliau seimbang dan tidak berat sebelah. Beliau tidak pernah lalai karena khawatir mereka juga akan lalai dan bosan. Setiap kondisi ada pada beliau, masing – masing memiliki penyangganya. Beliau tidak pernah mengurang – ngurangi atau melebih – lebihkan dalam hal kebenaran.</p>
<p>[orang – orang yang] berada di belakang beliau adalah orang – orang yang terbaik. Menurut beliau, orang yang paling utama dari mereka adalah orang yang paling baik nasihatnya. Dan orang yang paling agung martabat dari mereka adalah orang yang paling baik dalam berteman dan bersahabat</p>
<p>al-Husain berkata: “ Aku bertanya kepada Ayahku tentang majelis beliau. Ayahku menjawab: “Rasulullah -shalallahu &#8216;alaihi wa sallam- tidak berdiri dan tidak duduk kecuali dengan berdzikir. Jika beliau mendatangi suatu kaum, maka beliau akan berdiri setelah majelis berakhir, dan beliau memerintahkan ( kepada umatnya ) seperti itu</p>
<p>beliau memberikan kepada setiap orang / teman duduknya apa yang menjadi haknya, sehingga orang tersebut tidak merasa orang lain lebih mulia daripada dirinya. Seseorang yang duduk bersama beliau atau mengobrol bersama beliau, maka beliau akan bersabar meladeninya hingga orang itu yang pergi. Seseorang meminta kepada beliau suatu kebutuhan, maka beliau tidak pernah menolaknya dan pasti memberikannya. Atau ( jika tidak, maka beliau membalasnya ) dengan perkataan yang baik. Lapang dada dan perilaku beliau meliputi setiap orang. Seakan beliau menjadi ayah bagi mereka, dan mereka semua sama di hadapan beliau dalam hal memperoleh hak.</p>
<p>Majelis beliau adalah majelis ilmu, lemah lembut, malu, amanat, dan sabar. Tidak ada suara keras di sana, tidak ada cacat dan aib yang disingkap dan diungkapkan di depan umum. Mereka semua sama dan seimbang. Namun mereka saling berlomba ( mencapai ) keutamaan dengan takwa, mereka adalah orang – orang yang rendah hati. Mereka saling menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, mendahulukan yang memiliki kebutuhan dan melindungi/memperlakukan orang asing ( dengan baik )</p>
<p>dari buku Figur Rasulullah, Karya Imam Tirmidzi, Penerbit Pustaka as-Sunnah ( klik <a title="figur rasulullah" href="http://www.tokoihya.com/produk/details/555/figur-rasulullah.html" target="_blank">disini </a>)</p>
<div id="sdfootnote1">
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc">1</a>Yaitu 	memberikan keteguhan hati saat menghadapi dahsyatnya Hari Kiamat. 	Wallahu a&#8217;lam</p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p><a name="sdfootnote2sym" href="#sdfootnote2anc">2</a>Sabda 	beliau “ Sampaikan” hingga “ hari Kiamat” mempunyai jalur 	periwayatan yang lain bersumber dari &#8216;Ali. Namun sanadnya sangat 	lemah, karena itu saya memasukkan dalam adh-Dha&#8217;ifah ( 1594 )</p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p><a name="sdfootnote3sym" href="#sdfootnote3anc">3</a>Sebagaimana 	Allah telah menyebutkan kepribadian beliau dengan sebuah ayat : “<em> dan sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,tentulah mereka 	menjauhkan dari sekelilingmu&#8230;.</em>” ( QS. Ali Imran : 159 )</p>
</div>
<img src="http://blog.muslimjogja.com/?ak_action=api_record_view&id=270&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.muslimjogja.com/sejarah/figur-rasulullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Pemuda Arab Bernama Khalid</title>
		<link>http://blog.muslimjogja.com/sejarah/kisah-pemuda-arab-bernama-khalid/</link>
		<comments>http://blog.muslimjogja.com/sejarah/kisah-pemuda-arab-bernama-khalid/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Apr 2011 05:58:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[tazkiyatun nafs]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[umar basyier]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.muslimjogja.com/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Ia bernama Khalid. Ia tinggal di Riyadh, ibu kota Saudi Arabia. Sesudah menamatkan pendidikan SMU nya, Khalid tentu saja memiliki cita-cita sebagaimana yang diimpikan oleh kalangan remaja modern di tanah Arab bahkan dunia Islam pada umumnya sekarang ini, untuk pergi ke luar negeri dan melanjutkan studi di negeri-negeri barat, jauh dari penglihatan dan kontrol [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 410px"><a href="http://www.tokoihya.com/produk/details/526/mati-tersenyum-esok-pagi.html"><img title="mati tersenyum esok pagi" src="https://lh5.googleusercontent.com/_lZumt4S58BM/TaZB4SipjVI/AAAAAAAADLo/MJCv4wcAj_E/s800/mati-tersenyum-esok-pagi.jpg" alt="karangan ustadz abu umar basyier" width="400" height="268" /></a><p class="wp-caption-text">SP-MTEP</p></div>
<p></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ia bernama Khalid. Ia tinggal di Riyadh, ibu kota Saudi Arabia.</p>
<p>Sesudah menamatkan pendidikan SMU nya, Khalid tentu saja memiliki  cita-cita sebagaimana yang diimpikan oleh kalangan remaja modern di  tanah Arab bahkan dunia Islam pada umumnya sekarang ini, untuk pergi ke  luar negeri dan melanjutkan studi di negeri-negeri barat, jauh dari  penglihatan dan kontrol keluarga maupun masyarakatnya. Sementara antara  kedua dunia itu –barat dan masyarakat Islam- ada jurang perbedaan yang  begitu mencolok.</p>
<p>Orang tua Khalid, bahkan sangat mendukungnya dan mau bersusah payah  untuk menyiapkan berbagai hal yang akan dia perlukan, saat belajar di  luar nanti. Bagi mereka belajar di luar negeri adalah kebanggaan  tersendiri. Betapapun untuk itu, mereka harus merelakan anak mereka  tinggal berjauhan dengan mereka, hidup di negeri asing, dan harus  berjuang mengatasi segala perbedaan yang ada.</p>
<p>Waktu berangkat pun tiba. Sang ibu melepas putra kesayangannya itu,  menciumnya dengan sedih dan perih. Si ibu mengingatkan, agar dia  menghindari segala kebiasaan buruk kaum remaja di negeri orang nanti.  “Jangan coba-coba melakukan hal yang dapat mencoreng kehormatan keluarga  kita,” pesan ibunya. Khalid menyanggupinya.</p>
<p>Khalid pun menghitung menit demi menit, jam demi jam karena saking  rindunya ia terhadap negeri yang banyak ia dengar dari banyak orang yang  telah pergi kesana. Kerinduan mengalahkan segalanya. Bayangan tentang  keindahan, kemodernan negeri itu yang selama ini hanya ia dengar dan ia  amati dari cerita banyak orang, sebentar lagi akan segera berubah  menjadi kenyataan yang akan dialami sendiri. Betapa berbahagianya dia  nanti. Negeri itu adalah segala-galanya bagi Khalid saat itu.</p>
<p>Dan, memang begitulah adanya. Negeri itu segala-galanya bagi Khalid.  Sekejap saja kakinya berpijak di negeri tersebut, segala pesan ibunya  yang ia simak saat berangkat secara begitu mengharukan, kontan menguap  begitu saja. Nyaris tidak tersisa sejumputpun. Ia sudah lupa diri. Tak  hanya lupa diri, bahkan berangsur-angsur ia mulai melupakan Allah, <em>Rabb</em> yang selalu mendengar dan melihat, dimanapun manusia berada.<span id="more-266"></span></p>
<p>Ia pun mulai tenggelam dalam berbagai maksiat dan dosa-dosa. Bahkan  ia juga tak lagi memedulikan nasib studinya. Studi yang justru  seharusnya menjadi tujuan dari perantauannya itu. Baginya, segala  kenikmatan hidup, kenikmatan dosa dan maksiat itu, melebihi  segala-galanya dibandingkan kebanggaan atas keberhasilannya belajar di  negeri tersebut.</p>
<p>Beberapa tahun pun berlalu. Lama sudah waktu berlalu di negeri asing  yang dia habiskan untuk berhura-hura dan berbuat nista. Belajar, hanya  menjadi pelengkap penderita di perantauannya itu. Akhirnya, ia pun  kembali ke negerinya. Kembali, dengan isi otak yang telah berubah,  dengan kondisi hati yang sudah menjadi gelap gulita, bahkan sudah  terkoyak-koyak terhembus angin syahwat dan nafsu hewani.</p>
<p>Sebagai akibatnya, lahirlah berbagai penyakit hati seperti  keragu-raguan dan syubhat atau kerancuan terhadap kebenaran. Karena  hatinya sebelumnya memang sudah kosong melompong. Tak terisi oleh  indahnya penghambaan diri kepada Allah. Maka, begitu mudah segala  penyakit itu beronggok di dalam jiwanya.</p>
<p>Selama ini, sang ibu telah menanti kedatangannya. Yakni, semenjak  bertahun-tahun ia meninggalkan tanah Arab. Sang ibu menantinya dengan  penuh kesabaran. Ia hanya dapat menghitung menit demi menit, jam demi  jam. Begitu rindunya ia untuk berjumpa dengan putra kesayangannya itu.  Air matanya mengalir setiap waktu, karena ia mengkhawatirkan keselamatan  sang anak. Meski si anak sendiri, justru tidak pernah membayangkan  ibunya sama sekali. Bahkan tidak pernah sekalipun bertanya tentang  kondisi ibunya. Yah, sekadang bertanya, apalagi untuk benar-benar ingin  tahu kondisi ibu dan keluarganya. Kalaupun ia teringat, hanya sesekali  saja. Tak ada kesan sama sekali.</p>
<p>Tibalah waktu perjumpaan itu. Si ibu pergi bersama saudara  perempuannya Khalid menuju bandara untuk menyambut kedatangannya.  Hatinya nyaris terbang saking suka citanya.</p>
<p>Di ruang tunggu pesawat, si ibu berdiri termangu menanti-nanti  kedatangan sang anak. Ia meneliti muka setiap orang yang turun dari  pesawat untuk mencari tahu wajah anaknya yang tercinta. Nah, itu si  Khalid datang!! “Tapi, benarkah itu Khalid?” Bisik sang ibu kepada  putrinya. Saat itu ia begitu terperanjat, sehingga nyaris tak mampu  berkata-kata.</p>
<p>Si Khalid datang dengan menggunakan kaca mata hitam, dengan rambut  cepak dan jenggot terpangkas habis. Mode terbaru yang digemari  orang-orang barat. Modis sekali.</p>
<p>Setelah dekat, barulah si ibu mengenalinya. Karena ada banyak ciri  diwajah dan tubuh Khalid yang tak mungkin disembunyikan. “Khalid,  Khalid!” si ibu berteriak memanggilnya.</p>
<p>Khalid menoleh ke arah ibunya. Si ibu menjulurkan tangannya untuk  menjabat tangan Khalid. “Aku ini ibumu, Khalid.” Ujar sang ibu antusias.  “Dan itu saudarimu.” Lanjutnya.</p>
<p>Si ibu yang sudah begitu lama menanti-nanti si anak, secara spontan  memelik dan mencium kening putranya itu. Ia membayangkan, anaknya itupun  akan menangis, saking gembiranya berjumpa dengan ibunya. Namun, semua  tak seperti yang ia duga. Dengan dingin, Khalid hanya menjulurkan  tangannya. Terlihat kesan angkuh pada sikapnya. “Apakah kalian masih  juga menutupi wajah kalian dan mengenakan pakaian hitam-hitam seperti  ini?” [1]</p>
<p>Sang ibu terperangah mendengar ucapan anaknya tersebut. Air mata  kegembiraan yang mengucur deras karena berjumpa dengan anaknya, seketika  bertukar menjadi air matakesedihan. Air mata sesal dan kecewa atas  sikap sang anak tersebut.</p>
<p>Ia bukan kecewa hanya karena penampilan anaknya yang berubah total,  tak lagi mencerminkan sosok Khalid yang tawadhu’, alim dan bersahaja.  Bukan, bukan karena itu. Tapi ia kecewa, karena ucapan pertama yang  meluncur dari mulut anaknya itu menunjukkan sinisme yang begitu kuat  terhadap syariat Islam.</p>
<p>Hijab adalah syariat Islam bagi setiap wanita muslimah. Kalimat  pertanyaan yang keluar dari mulut Khalid, menandakan kondisi hatinya  yang tak lagi nyaman terhadap syariat hijab bagi wanita muslimah. Itu  sangat mengecewakan hatinya.</p>
<p>Namun, sebagai ibu yang baik, ia berupaya menyembunyikan bias  kekecewaan itu dibalik hijabnya yang suci. Di balik nafasnya yang  membawa karena amarah. “<em>Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un</em>.” Hanya itu ucapan yang keluar dari mulut sang ibu, berulang-ulang.</p>
<p>Hari-hari pun berlalu. Khalid masih tetap tenggelam dalam pola pikir  dan juga kebiasaannya yang sesat dan menyimpang. Ia selalu mencari  kesempatan lagi untuk sekadar bepergian ke negeri-negeri barat tersebut,  kemudian kembali lagi. Jiwanya sudah kecanduan dengan gemerlap hidup  dan gaya hidup di negeri-negeri kafir itu. Sebaliknya, kebenciannya  terhadap agamanya sendiri kian hari kian menjadi-jadi.</p>
<p>Sang ibu sendiri, sama sekali sudah tidak menghargainya lagi sebagai  putra yang selama ini amat dikasihi dan sayangi. Bahkan ia mulai tidak  memperdulikannya sama sekali. Ia sudah berubah mulai membenci si anak  karena Allah. Bukan hatinya  secara utuh membenci sosok sang anak. Ibu  mana yang membenci anaknya? Tapi ia membenci sikap buruk dan kegelapan  hidup yang mengendap dalam diri anaknya. Dan memang demikianlah  konsekuensi dari kalimat Laa ilaaha illallah:</p>
<blockquote><p><em>“Kamu (hai Muhammad) tidak akan mendapatkan orang-orang yang beriman  kepada Allah dan hari Akhir, lalu berkasih-sayang dengan orang-orang  yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu  bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga  mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan  dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang daripadaNya. Dan  dimasukkanNya mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya  sungai-sungai. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas  terhadap (limpahan rahmat)Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah,  bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” </em> [QS.al-Mujadilah:22]</p></blockquote>
<p>Begitu benci sang ibu, namun ia tak ingin anaknya celaka. Sang ibu  mulai mendoakan agar anaknya kembali menjadi anak shalih dan mendapatkan  petunjuk. Ia ingin tetap berdoa agar anaknya terhidayahi. Ia khawatir,  bila kebencian dalam hatinya, suatu saat mendorong dirinya untuk  mendoakan keburukan bagi anaknya. Ia tak ingin hal itu terjadi.</p>
<p>Namun, hari kelabu itu pun tiba.</p>
<p>Malam itu adalah malam pengantin bagi si Khalid. Ia sukses menikahi  gadis pilihannya sendiri. Gadis cantik, modern dan mendewakan kehidupan  bebas ala barat, seperti yang digandrungi Khalid. Malan ini akan menjadi  malam terindah bagi Khalid. Tapi….</p>
<p>Sang ajal tidak memberinya kesempatan itu bermalam pertama!</p>
<p>Ketika ia sedang keluar mengendarai mobil kecilnya di hari  pernikahan, sebelum tiba saat bermalam bersama istrinya itu, tiba-tiba  ditengah jalan mobil yang ia kendarai bertubrukan dengan sebuah truk  besar. Tak ada jalan lain kecuali menerobos masuk ke bawah truk besar  tersebut, sehingga tubuhnya dan juga mobilnya berubah menjadi tumpukan  sampah dari besi-besian…bercamput daging dan darah.</p>
<p>Sesaat kemudian, polisi lalu lintas sudah berdiri di situ dengan  menggotong sekaruan penuh berisi daging dan tulang belulang. Tidak ada  yang tersisa lagi dari diri Khalid. Ia menjemput ajalnya yang naas. Inna  lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada dosa  yang lebih cepat mendatangkan siksa bagi pelakunya di dunia sebelum  siksa Akhirat, selain daripada kedurhakaan dan memutur silaturrahmi.”  Dikeluarkan oleh Ahmad dan yang lainnya.[2]</p>
<p><strong> Akankah kita mati tersenyum esok pagi?</strong></p>
<p>Note:</p>
<p>[1] Di Saudi Arabia, kebanyakan wanita masih menjaga tradisi Islam  mengenakan pakaian yang menutup seluruh auratnya. Bahkan kebanyakan  ulama disana berpendapat bahwa mengenakan cadar itu wajib, meski dalam  fiqih Islam dunia ada kontroversi soal hukum cadar. Sebagian menyakini  wajib, dan sebagian memandangnya sunnah. Masing-masing memiliki  dalilnya, warna pakaian yang biasa dipilih oleh mastarakat Saudi Arabia  adalah hitam. Mengacu pada beberapa riwayat yang menceritakan  bagaimana  di awal turunnya syariat hijab, banyak wanita mengenakan pakaian  menutup aurat berwarna hita, menyerupai burung gagak. Tapi sesungguhnya,  Islam tak memberi batasan pada warna pakaian, asalkan tetap menutup  aurat secara baik, dan tidak berlebihan. Wallahu a’lam.</p>
<p>[2] Disaripatikan dari kisah yang sama dalam buku az-Zamanul Qaadim karya Abdul Malik Qaasim.</p>
<p>Sumber: Disalin ulang dari buku “<a title="mati tersenyum esok pagi" href="http://www.tokoihya.com/produk/details/526/mati-tersenyum-esok-pagi.html">Mati Tersenyum Esok Pagi</a>”, Ustadz Abu Umar Basyir, Penerbit Shafa Publika, Cet.1, Hal.44-52. dari situs <a href="http://alqiyamah.wordpress.com/2011/04/04/akankah-kita-mati-tersenyum-esok-pagi-ustadz-abu-umar-basyir/">http://alqiyamah.wordpress.com/</a></p>
<p>dapatkan bukunya <a href="http://www.tokoihya.com/produk/details/526/mati-tersenyum-esok-pagi.html">disini</a></p>
<img src="http://blog.muslimjogja.com/?ak_action=api_record_view&id=266&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.muslimjogja.com/sejarah/kisah-pemuda-arab-bernama-khalid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fitnah Akhir Zaman</title>
		<link>http://blog.muslimjogja.com/manhaj/fitnah-akhir-zaman/</link>
		<comments>http://blog.muslimjogja.com/manhaj/fitnah-akhir-zaman/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Apr 2011 01:13:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.muslimjogja.com/?p=259</guid>
		<description><![CDATA[Shalih bin Ahmad menuturkan bahwa ayahnya (Imam Ahmad) pernah bercerita kepadanya. Disebutkan bahwa Imam Ahmad pernah berkata kepada dua orang utusan Khalifah (Ibnul Kalbi dan al-Muzhaffar, keduanya menggeledah rumah Imam Ahmad ketika dia dituduh telah menyembunyikan seorang ‘Alawi. Khalifah mengutus pasukan untuk menggeledah rumah Imam Ahmad di malam hari, namun dia tetap ridha dan memuji [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 215px"><a href="http://www.tokoihya.com/produk/details/523/fitnah-akhir-zaman.html"><img class=" " title="buku fitnah akhir zaman" src="https://lh3.googleusercontent.com/_lZumt4S58BM/TZ-q-p_FsmI/AAAAAAAADLQ/wc42nn9y0ck/s800/Fitnah-Akhir-ZamanB.jpg" alt="" width="205" height="298" /></a><p class="wp-caption-text">PIS-FAZ</p></div>
<p>Shalih bin Ahmad menuturkan bahwa ayahnya (Imam Ahmad) pernah bercerita kepadanya. Disebutkan bahwa Imam Ahmad pernah berkata kepada dua orang utusan Khalifah (Ibnul Kalbi dan al-Muzhaffar, keduanya menggeledah rumah Imam Ahmad ketika dia dituduh telah menyembunyikan seorang ‘Alawi. Khalifah mengutus pasukan untuk menggeledah rumah Imam Ahmad di malam hari, namun dia tetap ridha dan memuji khalifahnya. Lihat Siyar A’laam an-Nubalaa’ (XI/266).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Aku berpendapat untuk tetap mentaati Khalifah, baik ketika susah maupun senang, dalam kondisi semangat maupun terpaksa, bahkan ketika Khalifah lebih mementingkan dirinya sendiri sekalipun. Namun yang membuatku sedih adalah aku tidak diizinkan untuk mengikuti shalat berjamaah, menghadiri shalat jum’at, dan berdakwah kepada kaum Muslimin.”</p>
<p>[Diriwayatkan oleh al-Khallal dalam as-Sunnah (I/82, no. 13)].</p>
<p>Dalam riwayat Hanbal disebutkan tambahan lafazh: “Dan sungguh aku selalu mendo’akan agar khalifah selalu diberikan bimbingan dan taufik, baik pada malam maupun siang hari, dan juga dianugerahi kekuatan. Menurutku, hal itu adalah kewajibanku.”</p>
<p>Apa yang disebutkan oleh Imam Ahmad rahimahullah ini merupakan hakikat dari madzhab Salaf, sebagaimana per­nyataan Imam ath-Thahawi rahimahullah yang lalu. Sebab, salah satu hak seorang pemimpin adalah dido’akan oleh rakyatnya—baik dengan sepengetahuannya ataupun tidak—untuk men­dapatkan kebaikan, taufik, dan bimbingan Allah. Juga tidak menyebutkan sesuatu tentang dirinya, kecuali kebaikan. Tentunya, semua itu diiringi dengan upaya untuk menasihatinya sedapat mungkin. Dan perlu diingat bahwa pemimpin hanya boleh ditaati dalam hal kebaikan (ma’ruf). Jika dia memerintahkan untuk melakukan kemaksiatan, maka tidak boleh mentaati sesama makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Allah. Dan semua itu dilakukan dengan tetap memelihara hak Sang Khalifah dalam permasalahan yang lain.<span id="more-259"></span></p>
<p>Karena itulah, Imam Ahmad tetap memelihara hak khalifah ketika itu. Dia tidak menyebutkan tentangnya kecuali kebaikan; dia juga tidak menggunjing ataupun meng­umpatnya. Sikap Imam Ahmad ini sangat bertolak belakang dengan sikap kebanyakan kaum Muslimin yang tidak memahami kemaslahatan dan kerusakan yang lahir dari gunjingan terhadap pemimpin; atau mereka yang mengambil pendapat dari sumber bid’ah, atau berjalan di atas selain manhaj Salaf.</p>
<p>Syaikh Bin Baz rahimahullah berkata:</p>
<p>“Menyebarkan aib para penguasa dan menyebutkannya di atas mimbar bukanlah manhaj ulama Salaf. Karena hal itu dapat menyebabkan terjadinya kudeta, ketidakpatuhan, dan ketidaktaatan dalam hal yang ma’ruf. Perbuatan itu juga dapat menyebabkan terjadinya pemberontakan yang membahayakan dan tidak bermanfaat sama sekali. Cara yang menjadi panutan dari ulama Salaf adalah saling menasihati, baik terhadap sesama maupun terhadap penguasa; menulis surat kepadanya atau menjalin hubungan dengan para ulama yang memiliki kedekatan terhadap penguasa, agar dia bisa mengarahkannya kepada kebaikan.”</p>
<p>Syaikh Muhammad ash-Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:</p>
<p>“Berpeganglah kepada manhaj Salafush Shalih dalam ber­muamalah terhadap pemerintah. Kekeliruan pemerintah tidak boleh dijadikan sebagai alasan untuk membangkitkan amarah umat. Tidak mentaati pemerintah merupakan awal terjadinya kerusakan dan munculnya fitnah di tengah masyarakat. Menyibukkan hati untuk mencari-cari kesalahan pemerintah hanya akan menimbulkan kejahatan, fitnah, dan kekacauan. Sama halnya ketika seseorang menyibukkan hatinya untuk mencari-cari kekurangan para ulama, niscaya perbuatan itu akan menimbulkan sikap meremehkan terhadap mereka, yang selanjutnya akan meremehkan syari’at yang mereka emban. Maka yang wajib kita dilakukan adalah memperhatikan apa yang menjadi manhaj ulama Salaf dalam bermuamalat dengan pemerintah. Setiap orang harus mampu mengendalikan dirinya dan mempertimbangkan baik-baik akibat yang akan ditimbulkan oleh perbuatannya.</p>
<p>Ketahuilah bahwa orang yang melakukan pemberontakan itu sesungguhnya sedang membantu musuh-musuh Islam. Karena solusi yang tepat tidak terletak pada pemberontakan dan tidak pula dengan luapan emosi, melainkan solusi yang tepat adalah dengan cara hikmah (bijaksana). Namun yang dimaksud dengan hikmah di sini bukanlah berdiam diri dari kesalahan. Akan tetapi, membetulkan kekeliruan agar kita dapat memperbaiki keadaan, bukan untuk mengubah keadaan. Sesungguhnya yang dianggap sebagai seorang penasihat itu adalah orang yang berbicara demi memperbaiki keadaan, bukan mengubahnya.”</p>
<p>Semoga Allah merahmati kedua imam tersebut. Melalui pernyataan penting dari mereka berdua, menjadi jelaslah bagi kita bagaimana sesungguhnya manhaj ulama Salaf dalam bermuamalah dengan pemimpin (pemerintah). Ironisnya, hal ini tidak diketahui oleh kebanyakan da’i yang justru mengusung tata cara baru dalam berdakwah.</p>
<p>Perhatikan sikap Imam Ahmad rahimahullah yang telah diuji untuk membenarkan bahwa al-Qur-an itu makhluk. Dia dipenjara, dipukul, dan disiksa; serta dilarang meriwayatkan hadits, berfatwa, dan shalat Jum’at, bahkan shalat berjamaah. Namun dia tetap bersabar menghadapi kelaliman dan kezhaliman tersebut demi mengharap ridha Allah. Dan dia tetap mendo’akan dan menjaga hak-hak mereka.</p>
<p>Bandingkanlah sikap di atas dengan manhaj-manhaj sesat yang menyebabkan semakin bermunculannya fitnah di tengah-tengah umat. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui adanya hak orang lain, baik ulama maupun pemimpin, dengan dalih untuk mengingkari kemunkaran.</p>
<p>Dinukil dari buku Fitnah Akhir Zaman hlm. 223-226</p>
<p>Penulis : Dr. Muhammad bin A.W. al-&#8217;Aqil</p>
<p>Ukuran : 15.5 x 23.5 cm</p>
<p>Tebal : xvi + 441</p>
<p>ISBN 978-602-8062-47-3</p>
<p>Kode : FAZ</p>
<p>Harga : Rp 60,000</p>
<p>dapatkan bukunya disini</p>
<img src="http://blog.muslimjogja.com/?ak_action=api_record_view&id=259&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.muslimjogja.com/manhaj/fitnah-akhir-zaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Revolusi Menghafal AlQur&#8217;an</title>
		<link>http://blog.muslimjogja.com/al-quran-dan-tafsir/revolusi-menghafal-alquran/</link>
		<comments>http://blog.muslimjogja.com/al-quran-dan-tafsir/revolusi-menghafal-alquran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Mar 2011 02:05:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[al-Qur'an dan Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[hafal alquran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.muslimjogja.com/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar Penulis : Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Segala puji pula bagi-Nya yang telah menurunkan al-Kitab ( al-Qur&#8217;an ) kepada hambaNya, dan tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya. Saya bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah, yang tidak ada sekutu bagi-Nya,yang telah memudahkan al-Qur&#8217;an sebagai pelajaran. Allah -subhanahu wa ta&#8217;alaa-berfirman : &#8221; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://lh6.googleusercontent.com/_lZumt4S58BM/TYFV3GC8urI/AAAAAAAADIE/L2PWdjzAM0c/s288/menghafal-alquran.jpg"><img title="Revolusi menghafal alquran" src="https://lh6.googleusercontent.com/_lZumt4S58BM/TYFV3GC8urI/AAAAAAAADIE/L2PWdjzAM0c/s288/menghafal-alquran.jpg" alt="cara cepat menghafal alquran" width="205" height="288" /></a></p>
<p>Pengantar Penulis :</p>
<p>Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Segala puji pula bagi-Nya yang telah menurunkan al-Kitab ( al-Qur&#8217;an ) kepada hambaNya, dan tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya. Saya bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah, yang tidak ada sekutu bagi-Nya,yang telah memudahkan al-Qur&#8217;an sebagai pelajaran.</p>
<p>Allah -subhanahu wa ta&#8217;alaa-berfirman :</p>
<p>&#8221; <em>dan sesungguhnya telah kami memudahkan al-Qur&#8217;an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ?</em>&#8221; ( al-Qamar [ 54 ]: 17, 22, 32 dan 40 )</p>
<p>Allah -subhanahu wa ta&#8217;alaa- telah menyebutkan ayat ini dalam surat al-Qamar sebanyak 4 kali, untuk menegaskan bahwa Allah -subhanahu wa ta&#8217;alaa- telah memudahkan lafadz al-Qur&#8217;an untuk dibaca dan dihafalkan serta mudah untuk dipahami maknanya. Juga mudah untuk ditadabburi ( dihayati ) bagi siapa saja yang ingin mengambil pelajaran darinya.</p>
<p>Dari sini, ada dorongan untuk selalu memperbanyak membaca al-Qur&#8217;an, menghafal, mempelajari, dan mengajarkannya. Sebagaimana Allah -subhanahu wa ta&#8217;alaa- telah menjadikan para penghafal al-Qur&#8217;an sebagai keluarga-Nya dan memiliki kedudukan khusus di sisi-Nya</p>
<p>Segala puji Allah di permulaan dan akhirnya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusa_nya. Allah -subhanahu wa ta&#8217;alaa-telah memilihnya ( Muhammad -shalallahu ‘alaihi wa sallam- ) sebagaimana tertuang dalam al-Qur&#8217;an. Allah -subhanahu wa ta&#8217;alaa- berfirman</p>
<p>&#8221; <em>dan sesungguhnya al-Qur&#8217;an ini benar- benar diturunkan oleh Rabb semesta alam,dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin ( Jibril ), ke dalam hatimu ( Muhammad ) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang &#8211; orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas</em>&#8221; ( asy-Syuara [26]: 192-195)</p>
<p>Allah -subhanahu wa ta&#8217;alaa- sendiri lah yang menjamin penjagaan al-Qur&#8217;an ini sebagaimana dalam firman-Nya :</p>
<p>&#8221; <em>Sesunggunnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur&#8217;an dan sesungguhnya Kami benar- benar memeliharanya</em>&#8221; ( al-Hijr [15]:9 )</p>
<p>Amma Ba&#8217;du,<span id="more-253"></span></p>
<p>Sungguh banyak ayat al-Qur&#8217;an serta hadits Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam- yang menjelaskan keutamaan al-Qur&#8217;an dan para penghafalnya. Allah &#8211; subhanahu wa ta&#8217;alaa- juga mempersiapkan kedudukan yang tinggi bagi mereka di dunia dan akhirat</p>
<p>Tiga kelompok manusia di hadapan al-Qur&#8217;an</p>
<p>Kesempatan menghafal besar untuk meraih keutamaan ini adalah dengan menghafal al-Qur&#8217;an yang merupakan mukjizat. Oleh sebab itu, mereka menjadi ahli Allah -subhanahu wa ta&#8217;alaa- dan mendapat tempat khusus di sisi-Nya. Berkenaan dengan hal tersebut, manusia terbagi menjadi tiga kelompok :</p>
<p>Kelompok yang pertama adalah kelimpok yang mengherankan lagi sangat aneh, yakni adanya sebagian manusia yang mengetahui keutamaan &#8211; keutamaan tersebut di atas,tetapi mereka tidak memeiliki keinginan kuat untuk meraih derajat yang tinggi ini serta kebahagiaan dunia dan akhirat.</p>
<p>Saya pun melihat kelompok manusia kedua,yakni mereka yang bergegas menuju kitab Allah. Mereka menghafal,mempelajari, serte mangajarkannya karena mengharap keridhaan Allah -subhanahu wa ta&#8217;alaa. Mereka senantiasa berlomba-lomba meraih kebaikan, dan mempersembahkan suatu kebaikan bagi diri mereka yang tiada yang lebih baik darinya sebelum dan sesudahnya.</p>
<p>Di antara manusia, ada juga kelompok ketiga, yaitu mereka yang berusaha menghafalkan al-Qur&#8217;an, tetapi mereka mendapati kesulitan dan tidak menemukan orang menunjukkan cara, mengayomi serta memudahkan urusan mereka.</p>
<p>Mereka bahkan menemui orang yang menyulitkan urusan dan memupuskan cita- cita mereka. Saya melihat, setiap kali mereka mendengar ada daurah ( semacam pelatihan singgat ) pengajaran cara cepat menghafal al-Qur&#8217;an, mereka bersegera menghadiri daurah ini. Hal ini menunjukkan akan kebenaran ( kesungguhan ) niat mereka.</p>
<p>Akan tetapi, daurah &#8211; daurah ini tidak menjelaskan cara ( menghafal ) dengan ukuran yang cukup kepada mereka, serta tidak ada tindak lanjut agar mereka dapat menghafal al-Qur&#8217;an dengan baik.</p>
<p>Bagi mereka, saya merasa harus mengerahkan usaha sesuadi dengan batas kemampuan, untuk membuat ringkasan pengalaman saya selama lebih dari 40 tahun dalam bidang ini di depan  saudara- saudari dan anak- anak didik saya. Saya memohon pertolongan kepada Allah &#8211; subhanahu wa ta&#8217;alaa- sebelum dan sesudahnya.</p>
<p>Selain itu, saya akan menjadi penolong &#8211; penolong mereka &#8211; setelah Allah ta&#8217;alaa- dalam menghafal -al-Qur&#8217;an karena mengharap pahala dari Allah -subhanahu wa ta&#8217;alaa-. Saya akan menyuguhkan suatu metode yang saling melengkapi kepada mereka dalam sebuah buku yang saya namakan ‘Khairu Mu&#8217;in Fii Hifzhi al-Qur&#8217;an al-Karim&#8217; ( sebaik &#8211; baik penolong dalam menghafal al-Qur&#8217;an yang mulia )</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 298px"><a href="https://lh5.googleusercontent.com/_lZumt4S58BM/TYFVq-6EeVI/AAAAAAAADIA/wcPS8y5F4II/s800/tabel-menghafal-alquran.jpg"><img class=" " title="contoh table hafalan" src="https://lh5.googleusercontent.com/_lZumt4S58BM/TYFVq-6EeVI/AAAAAAAADIA/wcPS8y5F4II/s288/tabel-menghafal-alquran.jpg" alt="tabel hafalan alquran" width="288" height="233" /></a><p class="wp-caption-text">contoh tabel dalam buku</p></div>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 298px"><a href="https://lh6.googleusercontent.com/_lZumt4S58BM/TYFVqcofAdI/AAAAAAAADH8/OIN2cJRsjYk/s800/menghafal-alquran.jpg"><img class=" " title="contoh hukum bacaan" src="https://lh6.googleusercontent.com/_lZumt4S58BM/TYFVqcofAdI/AAAAAAAADH8/OIN2cJRsjYk/s288/menghafal-alquran.jpg" alt="hukum bacaan alquran" width="288" height="202" /></a><p class="wp-caption-text">contoh penggunaan hukum-hukum bacaan</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maksud judul tersebut ‘Khairu Mu&#8217;in&#8217; ( sebaik &#8211; baik penolong ) adalah Allah -subhanahu wa ta&#8217;alaa-, dan agar buku ini menjadi sarana petunjuk kepada kebaikan yang agung ini.</p>
<p>Adapun tujuan diterbitkannya buku ini adalah :</p>
<ol type="1">
<li>Mengharap balasan dan      pahala Allah -subhanahu wa ta&#8217;alaa-</li>
<li>Mengeluarkan zakat nikmat      yang dianugerahkan Allah -subhanahu wa ta&#8217;alaa- kepada saya berupa      keteguhan hafalan kitab ( al-Qur&#8217;an )</li>
<li>Agar buku ini bermanfaat      bagi setiap orang yang membaca dan mengamalkannya serta mendorong saudara      &#8211; saudara dan keluarganya untu mengahafl al-Qur&#8217;an,  sebagaimana firman Allah -ta&#8217;alaa-</li>
</ol>
<p>&#8220;<em>&#8230;Dan tolong menolonglah kamu dalam ( mengerjakan ) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong &#8211; menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya</em>&#8221; ( al-Maidah [5]:2 )</p>
<ol type="1">
<li>Agar para pembaca yang      terhormat bisa menghafal al-Qur&#8217;an dengan benar- benar mudah</li>
<li>Agar para hafizh ( orang      yang sudah hafal al-Qur&#8217;an ) bisa senantiasa mengulang ( muaja&#8217;ah ) dan      menguatkan hafalannya</li>
</ol>
<p>Buku ini bisa anda dapatkan <a href="produk/details/518/revolusi-menghafal-alqur'an.html"><span style="text-decoration: underline;">disini</span></a></p>
<img src="http://blog.muslimjogja.com/?ak_action=api_record_view&id=253&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.muslimjogja.com/al-quran-dan-tafsir/revolusi-menghafal-alquran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

